Dancow Parenting Center

Home / Stimulasi Kecerdasan si Kecil Harus Sesuai Umur

Stimulasi Kecerdasan si Kecil Harus Sesuai Umur

Sep 29, 2015

Stimulasi Kecerdasan si Kecil Harus Sesuai Umur

Share Article ini

Ternyata permainan yang dilakukan si Kecil tidak hanya sekedar permainan belaka saja lho, Bunda! Saat bermain, si Kecil menerima berbagai rangsangan yang dapat mendukung tahap tumbuh kembangnya. Sejak lahir, permainan penuh kasih sayang setiap hari merupakan stimulasi dini yang dapat Bunda lakukan untuk si Kecil. Melalui permainan ini semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan) si Kecil dirangsang agar semakin berkembang. Selain sistem indera, kemampuan motorik kasar dan halus, komunikasi, serta perasaan dan pikiran si Kecil pun perlu dirangsang melalui berbagai bentuk permainan.

Nah, apa saja sih manfaat dari stimulasi melalui permainan tersebut untuk si Kecil? Ketika rangsangan diberikan dengan penuh kasih sayang secara terus menerus dan bervariasi, maka pembentukan sel-sel otak si Kecil akan terjadi dengan cepat, begitu juga dengan pembentukan hubungan antarsel otaknya. Hal inilah yang kemudian membuat kecerdasan si Kecil menjadi semakin tinggi dan beragam..

Proses belajar si Kecil dapat dilakukan melalui proses mendengar, melihat, merasakan, mengingat, mencoba, mengulang, membandingkan, menggabungkan, dan membiasakan. Oleh karena itu, saat bermain Bunda harus memberikan contoh yang baik dan benar berupa ucapan, perkataan, maupun perilaku agar dapat diingat dan ditiru oleh si Kecil.

 Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan si Kecil agar hasilnya optimal. Rutinitas harian ketika Bunda memandikan, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak jalan-jalan, bermain, atau ketika si Kecil menjelang tidur adalah waktu yang tepat untuk menstimulasi si Kecil.

Pada umur 12 – 18 bulan, Bunda dapat menambah stimulasi bagi si Kecil dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, dan bermain dengan boneka. Selain itu, Bunda jangan lupa untuk mulai melatih si Kecil berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana yang Bunda berikan, dan juga menyebutkan nama benda-benda.

Pada umur 18 – 24 bulan, stimulasi yang Bunda berikan dapat ditambah kembali dengan menyebutkan dan menunjukkan anggota tubuh, menanyakan gambar binatang & benda-benda di sekitar rumah, mencuci tangan, memakai celana - baju, bermain melempar bola, melompat. Nah, pada tahapan ini Bunda bisa menggunakan berbagai lagu anak sebagai bantuan seperti lagu “Kepala Pundak Lutut Kaki” untuk bantu menghafalkan anggota tubuh.

Umur 2 – 3 tahun, stimulasi si Kecil kembali ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat, menyebutkan nama teman, menghitung benda, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan dari tahapan umur sebelumnya, Bunda juga dapat memberikan stimulasi yang diarahkan untuk kesiapan si Kecil untuk masuk sekolah seperti memegang pensil, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana,  kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman, dll. Stimulasi ini dapat mulai Bunda lakukan di rumah bersama pengasuh dan keluarga atau di Kelompok Bermain, Playgroup, atau sejenisnya.

Kunci utama untuk megoptimalkan pemberian stimulasi kepada si Kecil adalah cinta Bunda. Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan penuh kegembiraan antara Bunda dan si Kecil. Sebaiknya Bunda tidak memberikan stimulasi kepada si Kecil dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak, tidak memperhatikan minat atau keinginan si Kecil, atau di saat si Kecil sedang dalam keadaan mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Apalagi saat Bunda dalam keadaan bad mood yang justru tanpa disadari dapat memberikan rangsangan emosional yang negatif pada si Kecil. Ingat lho Bunda, semua ucapan, sikap dan perbuatan Bunda merupakan stimulasi yang direkam, diingat, dan akan ditiru si Kecil!

Berangkat dari cinta Bunda sebagai kunci utama dalam memberikan stimulasi si Kecil, maka pola asuh Bunda juga ikut mempengaruhi. Interaksi antara Bunda dan si Kecil harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (non otoritatif). Artinya, Bunda harus peka terhadap isyarat-isyarat si Kecil dengan memperhatikan minat, keinginan, atau pendapat si Kecil. Hindari untuk memaksakan kehendak Bunda, dan lewati hari-hari dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan. Selain itu, sebaiknya Bunda juga harus menciptakan rasa aman dan nyaman bagi si Kecil dengan cara memberi contoh tanpa paksaan, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, serta memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila si Kecil melakukan kesalahan. Bunda sebaiknya jangan banyak melarang atau membatasi ide-ide si Kecil, kecuali dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain.

 

Artikel ini ditulis oleh: Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi.