Dancow Parenting Center

Home / Siapakah Anak Generasi Alpha yang Sebenarnya?

Feb 16, 2017

Siapakah Anak Generasi Alpha yang Sebenarnya?

Share Article ini

Selamat datang Generasi Alpha! Inilah generasi anak-anak yang lahir pada rentang tahun 2011 hingga 2025. “Salah satu ciri khas generasi ini adalah mereka terlahir sebagai digital native, yaitu melek digital sejak usia yang sangat dini,” tutur Anastasia Satryo, M.Psi. Pakar perkembangan anak dari Universitas Indonesia ini menuturkan, generasi ini terpapar oleh teknologi secara terus menerus sejak mereka kecil. “Lihat saja telunjuk mungil mereka yang sudah akrab menyapu dan menggeser layar touchscreen smartphone ataupun tablet,” sambung Anas lagi.

Apakah paparan dan keakraban si Kecil dengan teknologi akan membentuk karakter yang khas? Secara tegas Anas mengatakan, belum ada riset khusus tentang hal itu, meski demikian, paparan teknologi mungkin saja ikut memengaruhi karakter anak. Berikut gambarannya:

  • Paparan informasi deras membuat anak menyukai hal-hal yang serba cepat.

Anak akan terbiasa dengan derasnya informasi yang datang. Mereka bisa mengaksesnya kapan dan di mana saja.  Hal ini dapat berefek positif karena anak dapat mengakses informasi yang merupakan sumber belajar. Misalnya saja, anak dapat mengenal hewan bernama kanguru lewat gambar dan video lewat akses internet di handphone. Atau, anak dapat dengan mudah mewujudkan ide prakarya dengan melihat anak lain membuatnya melalui video.

 

  • Akses informasi yang mudah membuat si Kecil jadi lebih kritis.

Banyaknya informasi yang didapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi kritis. Ia tidak serta merta mengiyakan apa yang dikatakan Ayah atau Bunda. Saat orangtua mengatakan, semua apel itu warnanya merah, mungkin saja ia segera memberikan interupsi karena ia pernah melihat apel berwarna hijau.

 

 

DAMPINGI SI KECIL!

Pengasuhan oleh orangtua tetap memegang peranan untuk menjadikan si Kecil tetap kreatif dan tekun melakukan aktivitas.  Mendampingi si Kecil juga penting agar informasi yang tidak bertanggung jawab dan tidak berguna sudah tersaring sebelum sampai ke tangannya.  Boleh jadi, karena si Kecil selalu menuntut kecepatan dan menyukai yang instan, pada dirinya tidak tumbuh ketekunan karena ia tidak perlu repot mencari ide atau membuat karya sendiri .

 

Selain itu, keakraban si Kecil dengan gadget perlu diatur agar ia tidak mengalami ketergantungan dan mengalami serangkaian efek samping. Bunda perlu tahu, ada banyak pengaruh yang dihasilkan gadget terhadap perkembangan anak, baik yang positif dan yang negatif. Jika positifnya adalah si Kecil jadi tahu banyak hal, menangkap banyak inspirasi, dan memiliki akses terhadap berbagai informasi yang semakin membuatnya kritis, maka efek negatif utama dari alat yang terhubung dengan internet adalah kecanduan atau adiksi. Kecanduan gadget bisa dialami anak batita hingga orang dewasa. Kecanduan ditandai dengan waktu bermain gadget yang melebihi batas. Jika dilepas dari gadget-nya, si Kecil jadi rewel dan tidak tahu harus melakukan apa. Dengan kata lain, ia tak bisa dilepaskan dari gadget-nya.

Agar tidak terjadi kecanduan tergadap gadget, anak Generasi Alfa perlu mendapatkan perhatian pada hal-hal berikut:

               

  1. Latihan seimbang pada kemampuan motorik.

Bila anak dari generasi sebelumnya harus berepot-repot menggambar atau membuat karya untuk menunjukkan ekspresi diri, saat ini anak Generasi Alfa bisa melakukan hal itu di  gadget-nya. Padahal, menggambar di layar tentu berbeda dengan menggambar langsung lewat goresan pensil atau kuas. “Dengan keberadaan gadget, berbagai permainan itu seolah menghilang, digantikan dengan berbagai permainan mengasyikkan di layar smartphone. Semua itu jelas dapat menghambat keterampilan motorik kasar dan halus anak,” ungkap Anastasia.

YANG DAPAT DILAKUKAN: Ajak anak melakukan aktivitas menggambar, menulis, membentuk lilin permainan/plastisin, main masak-masakan, memotong sayuran, memetik daun, dan menggunting kertas. Buatlah karya-karya sederhana bersama anak melalui berbagai aktivitas tersebut.  

 

  1. Menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan.

Menatap layar gadget terus-menerus membuat si Kecil cenderung tidak memerhatikan lingkungan sekitarnya. Jika dibiarkan, anak akan kesulitan berkomunikasi langsung dengan orang lain, sulit menumbuhkan empati terhadap kondisi tidak nyaman orang lain, dan kurang peduli terhadap yang terjadi di alam.

YANG DAPAT DILAKUKAN:  Lakukan berbagai cara agar bercakap-cakap dengan sebaya atau mendengarkan Bunda dan Ayah mendongeng memiliki daya tarik lebih ketimbang bermain gadget. Di akhir minggu, sempatkan mengajak si Kecil bermain “liar” di alam bebas dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan yang bisa menumbuhkan empatinya. Bacakan cerita untuk penghantar tidur si Kecil. Satu hal yang juga penting, jadilah contoh bagi si Kecil, bagaimana menggunakan gadget  dengan bijak. 

 

  1. Mengenalkan pentingnya proses dan sikap mandiri.

Ada kemungkinan pengaruh gadget yang berlebihan membuat anak malas bergerak untuk membantu diri sendiri, sehingga maunya serba dilayani. Anak juga cenderung tidak sabar menjalani suatu proses karena ingin yang serba praktis seperti apa yang dilihatnya di gadget. Meskipun kecepatan dan kepraktisan bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi tetap saja si Kecil harus disiapkan untuk menghadapi kondisi yang tidak memungkinkannya memperoleh hal-hal tersebut.

YANG DAPAT DILAKUKAN:  Libatkan anak dalam berbagai kegiatan di rumah, seperti membereskan mainan, mendekorasi kamar, memasak di dapur, bermain di alam terbuka, membuat mainan dari bahan-bahan bekas, atau mengundang teman-teman sebayanya untuk bermain bersama tanpa gadget. Melalui berbagai kegiatan dan interaksi langsung, si Kecil terdorong untuk menjalani tahapan-tahapan atau proses membuat sesuatu. Kala menemukan masalah, ia pun dihadapkan pada keharusan menemukan solusi. Stimulasi seperti ini lambat laun akan menumbuhkan ketekunan dan kemandirian pada diri si Kecil.  

 

Intinya, sediakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan berbagai kegiatan bersama si Kecil.  dengan penuh kegembiraan. Bunda dan Ayah, jangan mudah menyerah menghadapi rengekannya, tetapi tunjukkan selalu rasa cinta yang besar.  Jadilah contoh baginya bagaimana mengimbangi waktu beraktivitas dengan gadget dan lainnya. Dengan kata lain, buat batasan ber-gadget tidak  sebatas aturan, tetapi lebih ke bagaimana melakukannya dengan memberikan contoh nyata. 

      Bunda, yuk baca juga artikel tentang generasi masa depan lainnya di artikel                      “Gaya Orangtua Millenial Mendidik Generasi Masa Depan”