Dancow Parenting Center

Home / Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Si Kecil Anak Hiperaktif? Ini Cara Mengatasinya

Mar 24, 2016

Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Share Article ini

Usia Lofhana sudah menginjak 2 tahun dan sungguh aktif. Di rumah, ia bisa menaiki segala perabot, bahkan berani memanjat teralis jendela. Bila Ayah Wawan lengah sedikit, Lofhana sudah asyik bermain di jalanan depan rumah. Ketika jalan-jalan dengan Ayah dan Bunda, ia pun doyan menjelajah sendiri. Di toko buku atau supermarket, ia suka bertualang di antara rak-rak dan sibuk memegang semua benda yang menarik perhatian. Seakan baterainya tidak pernah habis.

Sebagian besar anak sering merasa tidak nyaman bila terlalu dikekang atau dibawa ke tempat baru. Terutama saat tahap perkembangan anak belajar berjalan atau usia bermain. Bila Bunda melakukan terlalu banyak larangan, mereka malah akan menjadi gelisah dan menjadi lebih aktif dari biasanya. Tapi Bunda, jangan terburu buru untuk mencap si Kecil sebagai anak hiperaktif. Keadaan yang tidak nyaman, wajar membuat mereka gelisah. Reaksinya bermacam macam, mulai dari bergerak terus, tak berhenti merengek, hingga menangis keras.

Psikolog Anak June Thompson, dalam bukunya Toddler Care, Pedoman Merawat Balita mengatakan seorang anak yang sangat gaduh atau menangis keras, tidak sama dengan anak hiperaktif. "Ini sama dengan anak yang baru bangun tidur di pagi hari dan memiliki energi yang sangat besar," ujar June, dalam bukunya "Toddler Care" yang disulihbahasakan oleh Dokter Novita Jonathan.

Tidak cuma keadaan yang tidak nyaman, sifat anak aktif juga muncul ketika terlalu bahagia atau senang. Menurut Thompson, di saat seperti itu ada semacam perasaan tertantang atau eforia yang membuat anak bergerak ke sana ke mari. Karena itu, Bunda tak perlu khawatir bila melihatnya menjadi sangat aktif. Bunda hanya perlu melakukan beberapa cara mengatasi anak hiperaktif seperti di bawah ini :

1. Tunjukkan sikap tegas tapi tak perlu marah

Panggil nama si Kecil. Lalu pandang mata dan wajahnya sampai perhatiannya tertuju pada Bunda. Kemudian berikan sugesti dengan mengatakan bahwa tindakannya sudah berlebihan. Bilang juga bahwa rasa senang yang diekspresikannya dengan perilaku tidak baik sudah mengganggu lingkungan sekitar. Misalnya dengan mengatakan "Mainannya kan sudah dapat, nah disayang dong jangan dibanting-banting ya."

2. Konsisten terhadap apa yang pernah dijanjikan atau diucapkan

Seringkali anak berusia 18 bulan - 3 tahun menjadi lebih aktif karena merasa gusar. Rasa marah timbul sebab ada rasa frustrasi dari dalam diri si Kecil. Salah satu penyebabnya adalah mereka menemukan fakta atau keadaan yang tidak sesuai dengan gambaran yang diucapkan orangtua. Jadi Bunda, jangan memberikan janji berlebihan ya.. Apalagi kalau ucapan Bunda hanya sekedar janji palsu untuk menenangkan saat ia merajuk.

3. Cobalah mencari tahu penyebab perilaku aktif si Kecil

Bunda bisa mencoba mengingat kembali saat si Kecil menunjukkan perilaku sangat aktif. Sehingga dapat mencari dan menemukan penyebab yang mempengaruhi tingkah laku anak. Dengan demikian, Bunda bisa menemukan solusi untuk mengatasi masalah saat anak menunjukkan perilaku aktif.

4. Jika harus berkata tidak, berikan penjelasannya

Rasa ingin tahu dan tidak terima dalam diri si Kecil akan memicu tindakan merengek terus menerus. Biasanya ini akan berlanjut menjadi kegaduhan yang lebih besar. Bunda, wajar saja bila anak terpusat pada dunianya sendiri, semua keingintahuannya sebisa mungkin harus dipenuhi oleh orangtua. Berikanlah penjelasan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti sebagai salah satu cara berbicara yang baik dengan anak. Jangan menggunakan kata kiasan atau analogi. Ikuti terus pertanyaannya sampai ia puas. Setelah itu mereka akan tenang dengan sendirinya.

DANCOW Bantu Lindungi Eksplorasi si Kecil.