Home / Mengasah Kecerdasan Spiritual Sejak Dini

Oct 20, 2017

Mengasah Kecerdasan Spiritual Sejak Dini

Share Article ini

Kecerdasan spiritual atau spiritual quotient (SQ) penting ditumbuhkan pada si Kecil, sebagai dasar pemahaman terhadap akan adanya Sang Pencipta.

Pemahaman akan adanya Sang Pencipta (Tuhan) cukup ampuh untuk menjaga prinsip di jalur yang benar, sebuah prinsip yang didasarkan pada nilai-nilai positif lingkungan dan agama.

Spiritual quotient  (SQ) adalah kemampuan si Kecil untuk memahami keberadaanTuhan dengan baik. Ia memahami jika Tuhan yang menciptakannya, menciptakan alam sekitar, mengatur kehidupan, memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu yang baik, dan terus mengontrol apa yang mereka lakukan.

Dengan kata lain, anak yang kualitas SQ-nya baik, akan merasakan kehadiran Tuhan di sisinya. Itulah mengapa, anak dengan SQ yang baik akan mudah diminta beribadah karena melalui kegiatan itulah si Kecil merasa dekat dengan Tuhan.

“Pemahaman akan adanya Tuhan cukup ampuh untuk menjaga prinsip di jalur yang benar, sebuah prinsip yang didasarkan pada nilai-nilai positif lingkungan dan agama. Ia tahu prinsip benar-salah, berjalan di jalur yang benar dan menghindari jalan yang salah yang dapat menyengsarakan banyak orang. Ia tahu, menganut prinsip hidup seperti itu akan membuatnya berguna bagi lingkungan,” jelas Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, MPsi.

Prinsip inilah, lanjut Vera, yang akan dijadikan acuan untuk bersikap dan berperilaku. “Si Kecil yang SQ-nya bagus biasanya tak segan menolak perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsipnya, seperti mengambil milik orang lain tanpa izin, berperilaku curang, berbohong, menyakiti dan mencelakakan orang lain. Si Kecil juga akan lebih mudah melakukan hal-hal baik: belajar dengan giat, menolong orang lain, patuh kepada orangtua, taat kepada guru, hormat kepada orang dewasa, dan sebagainya. Si Kecil juga akan terdorong bersikap sportif, mengakui kelebihan orang lain. Selain itu, dia juga terbiasa meminta maaf bila bersalah dan memaafkan orang lain atas kesalahannya.”

Selain prinsip ketuhanan, pada sesama manusia juga si Kecil yang ber SQ tinggi biasanya punya empati yang baik. Si Kecil akan peka terhadap situasi lingkungannya terutama pada mereka yang membutuhkan bantuan. “Misalnya ada temannya yang dinakali teman lain, ia akan membela temannya yang dinakali itu. Atau saat ia membawa bekal makanan sedangkan temannya tidak, maka ia akan tergerak untuk membagi sebagian bekalnya kepada teman tersebut.”

SQ yang dipunyai si Kecil juga membuatnya akan menyayangi lingkungan dan mahkluk hidup lain seperti binatang serta tumbuhan karena semuanya merupakan ciptaan Tuhan yang perlu disayang.

Meskipun konsep ketuhanan dan hal-hal yang menyangkut spiritual adalah hal yang abstrak, bukan berarti kita tidak dapat mengajarkannya pada si Kecil. Menurut Vera, hal-hal yang berkaitan dengan SQ dapat diajarkan lewat keseharian Bunda dan Ayah bersama si Kecil. Contohnya adalah sebagai berikut;

- Mengasah SQ usia balita bisa dilakukan melalui permainan petak umpet yang mengandung pelajaran bahwa apa yang tidak terlihat  bukan berarti ia tak ada.

- Jika si Kecil suka menonton film, pilihkan tema-tema yang mengandung pembelajaran moral seperti etika berteman, hormat pada orangtua, sayang pada sesama manusia dan makhluk hidup, serta  kisah-kisah panutan.

- Selain itu, pastikan si Kecil memiliki model identifikasi SQ di rumah. Bunda dan Ayah harus menjadi teladan dalam mengenalkan kebiasaan beribadah, berkata santun kepada orang lain, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, dan bersikap jujur.

- Libatkan si Kecil dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan beragama adalah cara praktis agar si Kecil tahu kekuatan Tuhan. Misalnya salat berjamaah, pergi ke gereja bersama, atau mengunjungi rumah ibadah secara rutin. Bagi umat muslim, bulan puasa juga bisa menjadi sarana mengajarkan sisi spiritual tentang kegunaan berpuasa. Bantu anak-anak memahami mengapa orangtua berpuasa yaitu bentuk ibadah atau kegiatan yang berpusat pada Tuhan. Selain itu, puasa juga tidak sekadar menahan haus dan lapar, namun mengingatkan kita pada mereka yang tidak seberuntung kita bisa makan setiap hari.

- Saat menjalankan ibadah, beri pemahaman bahwa ibadah bukan sekadar ritual, namun perlu ditanamkan suasana batiniah dari setiap ibadah yang dilakukan. Tujuannya agar sembahyang dan berdoa bukan sekadar dilakukan sebagai kewajiban, tetapi sudah menjadi kebutuhan.

Bunda yuk baca juga artikel tentang kecerdasan Si Kecil di artikel "Stimulasi Tepat Akan Optimalkan Kecerdasan Si Kecil"