Dancow Parenting Center

Home / Mainan untuk Tahap Perkembangan Otak Anak

Mainan untuk Perkembangan Otak Anak

Nov 19, 2015

Mainan untuk Tahap Perkembangan Otak Anak

Share Article ini

Dalam mendukung setiap tahap perkembangan anak, Bunda harus memberikan stimulasi agar tumbuh kembang si Kecil berjalan optimal. Ada banyak cara memberikan stimulasi kepada si kecil untuk mendukung perkembangan anak. Selain dengan nutrisi yang tepat, Bunda bisa merangsang perkembangan anak dengan memberikan beragam mainan pada anak.

Dunia anak adalah dunia bermain. Bagi si Kecil bermain memiliki banyak manfaat positif, dengan bermain si Kecil belajar banyak hal. Bermain dapat merangsang perkembangan anak, seperti kemampuan motorik halus dan kasar, emosional, hingga kemampuan sosial si Kecil saat berinteraksi dengan teman sebayanya. Selain itu, bermain juga dapat memaksimalkan perkembangan anak yang paling penting, yakni perkembangan otak si Kecil.

Bermain adalah kesenangan yang harus diperoleh si Kecil sebagai tahap dari tumbuh kembangnya. Melakukan eksplorasi nan asyik pun bagian dari perkembangan si Kecil yang merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya. Seperti perkembangan sistem otot dan syaraf, bicara, emosi, serta kemampuan bersosialisasi.

Dalam mendukung tahap perkembangan si Kecil, Bunda perlu memilih jenis mainan yang tidak mengganggu tumbuh kembang si Kecil. Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Fabiola Priscilla mengatakan, pilihlah mainan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, bisa dilihat dari, usia kemampuan, serta kebutuhan si Kecil. “Misalnya, memberikan mainan yang mampu merangsang sensomotorik si Kecil pada usia di bawah tiga tahun, seperti mainan yang berbunyi ketika diputar, ditekan, atau memiliki tekstur yang bervariasi,” kata Fabiola melalui surat elektroniknya, 3 Juli 2015.

Selain aspek yang sesuai dengan usia serta kebutuhan dan tumbuh kembang, mainan yang baik haruslah aman digunakan oleh si Kecil dan tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya. Tekstur mainan pun harus dibuat lembut dan tidak menyulitkan si Kecil, terutama saat berada pada tahap oral, 1-5 tahun. Di tahap ini, si Kecil akan menggigit atau memasukkan apapun ke dalam mulut untuk mengenali sebuah benda.

Fabiola juga menyarankan, Bunda sebaiknya menghindari ukuran mainan yang telalu mini untuk menjauhkan kemungkinan bahaya tertelan oleh si Kecil. Juga bentuk mainan yang terlalu lancip atau mudah pecah. Bunda pun harus memperhatikan safety marks dari setiap kemasan mainan. “Biasanya mainan yang baik sudah melewati serangkaian standard pengujian safety, baik secara internal pabrik maupun dari lembaga independen seperti ASTM, ISO, INMETRO, TUV, dan sebagainya,” kata Fabiola.

Ketika si Kecil sudah berusia lebih besar, mainan pun harus mampu mengajarkannya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Seperti mainan bongkar pasang balok. Karena selain membantu perkembangan motorik, bongkar pasang balok juga mengajarkan si Kecil berkomunikasi dengan teman, saudara, atau gurunya.

Bila Bunda salah memilih mainan, bisa jadi justru mengganggu perkembangan sensorik motorik si Kecil. Dalam artikel Penggunaan Baby Walker yang dipublikasikan situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan contoh mainan yang sebaiknya dikurangi penggunaanya, yakni baby walker.

Baby walker tidak mengajarkan anak untuk belajar menyeimbangkan tubuh, malah menyebabkan si Kecil tak dapat melihat kaki dan jari kakinya,” ujar Dokter Irwanto, salah satu spesialis anak dalam artikel tersebut. "Bahkan dapat menyebabkan kecelakaan dan cidera pada anak yang baru berjalan."

DANCOW Bantu Lindungi Eksplorasi si Kecil.