Dancow Parenting Center

Home / Semua Usia / Tips Mengatasi Anak Tantrum

Sep 12, 2017

Tips Mengatasi Anak Tantrum

Share Article ini

Bunda pernah mengalami situasi seperti berikut? Satu menit Bunda dan si Kecil menikmati makan malam dengan tenang di restoran, semuanya sepertinya akan berjalan dengan baik-baik saja, dan menit selanjutnya si Kecil mulai merintih, merengek, lalu menjerit sekuat-kuatnya.

Bunda menduga, si Kecil tidak suka dengan makanannya, tapi si Kecil menunjuk-nunjuk minumannya, namun tanpa berkata-kata apa pun. Hanya mengamuk saja. Aduh…Bunda jadi bingung. Ada apa, ya?

AKIBAT KETERAMPILAN BAHASA BELUM BERKEMBANG

Kalau dalam istilah yang biasa digunakan dalam dunia psikologi, si Kecil Bunda tengah mengalami temper tantrum. Apa itu? Yuk, kita mengenal temper tantrum lebih jauh.

Menurut Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog., temper tantrum adalah luapan atau ledakan emosi anak yang sulit dikendalikan, biasanya berkaitan dengan keinginan yang tidak terpenuhi dan terjadi dalam situasi/kondisi tertentu yang membuat anak tidak nyaman misalnya sedang mengantuk, lelah atau frustrasi.

Meski tampak mengkhawatirkan, temper tantrum sesungguhnya masih tergolong normal karena merupakan bagian dari proses perkembangan.

Anak-anak berumur antara 1 sampai 3 tahun biasanya rawan mengalami tantrum. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum diharapkan berakhir di usia menjelang 6 tahun dimana kemampuan bahasanya sudah lebih mahir sehingga dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi lebih baik.

Tantrum di usia batita bukan mencerminkan anak yang manipulatif, tapi memang anak tengah mengalami masa sulit dalam mengendalikan emosinya termasuk dalam merespons rasa frustasi.

Vera Itabiliana  mengaitkan sebagian besar penyebab masalah itu dengan keterampilan berbahasa yang masih belum berkembang dengan baik. “Anak-anak batita mulai bisa memahami lebih banyak kata yang mereka tangkap dan dengarkan, meski begitu kemampuan mereka untuk memproduksi bahasa,  masih sangat terbatas,” ujarnya. Ketika si Kecil tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan atau apa yang ia inginkan, rasa frustrasi pun menguasainya.

Vera juga mengatakan, selain keterampilan bahasa yang belum memadai, penyebab temper tantrum pada batita, mulai dari mencari perhatian, keinginan yang tidak terpenuhi, rasa frustasi, kelelahan, orangtua yang mengekang, hingga anak yang memang temperamental.

Namun apa pun penyebabnya, temper tantrum sejatinya harus selesai sebelum anak memasuki usia sekolah dasar, karena jika tidak, sifat ini bisa terbawa hingga anak dewasa.

KIAT MENGATASI

Lalu bagaimanakah cara menangani batita yang tengah mengalami temper tantrum. Ketika anak “mengamuk”, Vera menyarankan Bunda melakukan hal- hal ini;

1. Tetaplah berkepala dingin:  Ketika si Kecil tantrum, dia tidak akan bisa mendengarkan alasan, meski ia akan memberikan respons, secara negatif, terhadap teriakan ataupun ancaman Bunda. Semakin Bunda berteriak untuk memintanya berhenti, ia akan semakin berperilaku “liar”. Karenanya, berhentilah berteriak dan cobalah untuk hanya duduk dan tetap berada di sampingnya sembari menunggu si Kecil selesai menumpahkan kemurkaannya. Peluk  anak jika dia mulai menyakiti dirinya atau orang lain misalnya memukul atau membenturkan kepala.

   Jangan berpikir untuk meninggalkannya karena malah akan membuat si Kecil tambah frustasi karena merasa ketakutan.

   Jika Bunda mulai terpancing emosi, Vera menyarankan untuk secara tenang meninggalkan ruangan selama beberapa menit, namun si Kecil masih dapat melihat Bunda atau ada orang lain (ayah atau pengasuh) yang menjaganya  dan kembali setelah si Kecil berhenti menangis. Dengan tetap tenang, Bunda juga sebenarnya tengah membantunya untuk tenang kembali. 

2. Jangan lupa bahwa dalam situasi ini, Bundalah orang dewasanya. Bunda mungkin sangat tergoda untuk menyerah demi menghentikan tantrumnya, tapi cobalah untuk tidak merasa khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain. Percayalah, semua orangtua pernah mengalaminya.

    Dengan menurut, Bunda hanya akan mengajari si batita bahwa tantrum adalah cara yang baik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, yang akan menjadi pondasi timbulnya konflik di masa mendatang. Daya tawar Bunda yang lemah, inilah yang ia butuhkan dari Bunda yang tidak bisa menguasai keadaan.

      Jika Bunda tengah berada di tempat umum, tempat yang biasanya disukai anak untuk bersikap tantrum, bersiaplah untuk membawa pergi si Kecil ke tempat yang lebih tenang/sepi sampai ia tenang kembali.

3. Bicarakan kemarahan anak setelahnya. Setelah “badai” menghilang, duduklah di samping si Kecil dan ajak ia bicara soal apa yang tadi terjadi. Diskusikan tantrum dalam istilah yang sangat sederhana dan cobalah untuk memahami rasa frustrasi si kecil. Bantu ia mengungkapkan perasaannya dalam kata-kata, seperti, “Kamu sangat marah karena Bunda tadi tidak membelikan mainan yang Adek minta”. Biarkan ia melihat bahwa setelah mengekspresikan dirinya lewat kata-kata, dia akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Setelah itu katakan sambil tersenyum, “Bunda minta maaf karena tadi Bunda tidak mengerti apa yang kamu rasakan. Nah sekarang setelah kamu tidak menjerit lagi, Bunda bisa mengerti dengan baik apa yang kamu inginkan.” Jelaskan juga mengapa dia tidak bisa dapatkan apa yang ia mau dan kapan dia bisa mendapatkannya.

4.  Biarkan si kecil tahu kalau Bunda menyayanginya. Setelah si Kecil tenang dan Bunda punya kesempatan untuk berbicara dengannya soal tantrumnya, berikan ia pelukan singkat dan katakan kepadanya bahwa Bunda menyayanginya. Penting bagi si batita untuk tahu, meski Bunda menolak membeli mainan, namun Bunda tetap sayang padanya. Pelukan adalah hadiah Bunda untuk si batita yang berhasil menenangkan diri dan berbicara soal apa yang ia rasakan kepada Bunda.

5. Cobalah untuk memprediksi situasi yang bisa memancing tantrum si Kecil. Ingat-ingatlah situasi mana yang membuat si batita kerap tantrum dan buatlah rencana untuk menghindarinya. Jika ia merasa marah saat lapar, bawalah camilan untuknya. Jika dia jadi jengkel di petang hari, selesaikan pekerjaan Bunda di pagi hari.

    Semakin hari, batita akan semakin mandiri, jadi tawarkan ia pilihan kapan pun hal tersebut memungkinkan. Tak ada yang suka disuruh-suruh untuk melakukan sesuatu sepanjang waktu. Mengatakan, “Adek mau sup jagung atau wortel?” daripada “Makan dong sup jagungnya!” akan membuat batita merasa memiliki kontrol dan mengurangi frustasinya.

   Monitor seberapa sering orangtua mengatakan “tidak”. Jika orangtua melakukan hal itu secara rutin, orangtua mungkin sudah menanamkan sumber stres yang tidak perlu untuk orangtua dan anak. Cobalah untuk lebih santai dan belajar bernegosiasi dengan anak untuk hal-hal yang memang boleh dan pantas dilakukan.

6.  Waspadalah terhadap gejala adanya rasa stres berlebihan. Meski tantrum adalah hal yang sangat wajar dalam kehidupan batita, Bunda sebaiknya tetap waspada dan mencari sumber masalah yang mungkin menjadi penyebabnya. Apakah telah terjadi pergolakan di tengah keluarga? Apakah Bunda atau Ayah tengah menjalani masa yang super sibuk dan penuh gangguan? Apakah orangtua tengah tertekan, baik oleh pekerjaan atau hal lain? Semua hal tadi dapat mendorong terjadinya tantrum pada anak.

  Jika tantrum si batita terjadi terlalu sering atau terlalu intens (atau dia menyakiti dirinya sendiri atau orang lain), carilah bantuan. Di pemeriksaan rutin anak, dokter/psikolog biasanya akan mendiskusikan tumbuh kembang si kecil. Gunakan kesempatan yang baik itu untuk membicarakan kekhawatiran Bunda atas perilaku si batita. Dokter/Psikolog akan membantu menangani setiap masalah fisik atau psikis yang tengah dihadapi pasiennya. Dokter/Psikolog juga mungkin akan memberikan sejumlah saran dalam mengatasi ledakan amarah itu.

  Selain itu, hubungi dokter jika si Kecil mengalami breath-holding spell (keadaan menahan napas dan tidak bersuara dalam hitungan 5-10 detik, kemudian menangis keras lagi) saat ia marah yang membuat Bunda merasa takut.

   Demikian Bunda, kiat menangani temper tantrum pada si batita. Semoga Bunda berhasil mengatasinya, dan ingat, penanganan yang tepat akan membuat temper tantrum menghilang pada waktunya. Good luck. (*).

 Bunda yuk baca juga artikel mengenai tantrum pada si Kecil di artikel "Ajarkan "Anger Management" pada si Kecil"