Dancow Parenting Center

Home / Semua Usia / Pentingnya Mendidik Problem Solving pada Anak

Jul 13, 2017

Pentingnya Mendidik Problem Solving pada Anak

Share Article ini

Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, akan menghadapi masalah dalam hidupnya. Untuk itu, anak perlu memiliki kemampuan problem solving untuk membantu mereka mengatasi persoalan dengan baik. Tidak hanya berguna untuk menyelesaikan masalah mereka sehari-hari, keterampilan problem solving juga bermanfaat saat anak harus mengeksplorasi dunianya, atau mengerjakan tugas-tugas di sekolah.

Keterampilan ini tentunya akan berbeda pada setiap anak sesuai tahapan usianya. Keterampilan memecahkan masalah pada bayi akan berbeda pada anak usia 2 tahun yang daya ingatnya sudah meningkat. Keterampilan ini akan terus bertambah ketika anak mulai masuk sekolah. Meskipun begitu, orangtua harus terus mengasah kemampuan ini agar semakin terarah dan anak tahu kapan harus menggunakannya.

Keterampilan memecahkan masalah berkaitan dengan bagaimana anak berpikir, memahami, dan mendapatkan pemahaman akan dunianya, termasuk juga kemampuan mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.

Keterampilan ini akan terlihat berbeda bagi anak pada setiap tahap perkembangannya, demikian menurut dokter spesialis anak dr. Eva Devita, SpA(K). Di usia setahun, anak bisa membuat pilihan-pilihan sederhana, seperti memilih mainan yang ingin mereka mainkan. Mereka bisa meniru orang dewasa di sekitarnya untuk memecahkan masalah.

USIA BATITA

Stimulasi perkembangan kognitif dan problem solving akan berbeda untuk setiap tahapan usia anak. Dalam buku “Denver Developmental Activities” dijelaskan, anak usia batita (1-3 tahun) bisa diajak bermain cilukba, bermain petak umpet, membantu anak bermain atau menyusun puzzle, balok, mewarnai, dan menyediakan anak mainan dan aktivitas variatif yang membutuhkan pemecahan masalah. Ajarkan anak maksud kata “di atas”, “di bawah”, “di samping” lewat permainan. Ajari anak nama warna dan bentuk.

Seiring berkembangnya maturitas pemahaman terhadap keberadaan benda dan sebab akibat sederhana, pada usia 1-3 tahun anak mulai bermain dengan tujuan dan rasa ingin tahu akibat dari tindakannya. Ketika melempar mainan atau memukul benda, anak memerhatikan apa yang terjadi dengan benda tersebut dan bila menyenangkan untuknya akan diulanginya lagi.

Ketika anak berusia 2 tahun, ia dapat menggunakan  memorinya untuk memecahkan masalah yang berhasil dilalui pada masa-masa sebelumnya, atau yang sudah berhasil diatasi orang lain. Dari sini, kapasitas manusia untuk memecahkan masalah terus berkembang sampai seseorang mencapai usia 25 tahun.

“Karena keterampilan problem solving ini terus berkembang, anak (atau remaja) akan lebih baik dalam menyelesaikan konflik sosial, menyelesaikan soal-soal matematika, mengelola hidupnya sendiri tanpa lebih banyak intervensi orang dewasa, dan menjadi lebih percaya diri,” papar Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial di RSAB Harapan Kita, Jakarta ini.

Kemampuan problem solving atau memecahkan masalah sejalan dengan perkembangan kognitif seorang anak. Kemampuan problem solving adalah kemampuan anak untuk menyerap, memikirkan, dan memahami dunianya termasuk mengingat, mencari pemecahan masalah, dan mengambil keputusan.

Seiring bertambahnya lama perhatian atau konsentrasi, anak pun mulai dapat memahami keberadaan benda, dan berusaha mengambil benda tersebut dengan berbagai cara. Contoh, anak melihat mainannya tertutup sebagian dengan kain atau kotak, maka anak akan berusaha menarik kain, atau menggeser kotak untuk mendapatkan mainannya.

Anak belajar dari pengalamannya itu untuk kemudian memanipulasi cara mengambil sesuatu atau bermain dengan mainannya. Anak mulai belajar bermain imajinatif seperti menyuapi boneka, masak-masakan, balapan mobil, dan lain-lain.

USIA BALITA

Untuk anak usia 3-4 tahun, ajarkan anak membilang dan mengenal angka 1-10, lakukan permainan eksperimen sederhana seperti mengelompokkan benda berdasarkan ukuran dan berat. Berikan anak permainan yang melatih daya ingatnya (contoh bermain tebak-tebakan), bacakan buku cerita, ajarkan anak konsep 1, ½, dan sebagainya (contoh potong apel menjadi dua, kemudian ajarkan anak dari 1 buah apel apabila dibagi dua menjadi 2 buah yang besarnya masing-masing lebih kecil dari apel yang utuh).

Dalam buku “Approaches to Learning”, ketika memelajari keterampilan memecahkan masalah, anak mungkin akan mengalami fase kesal, frustrasi karena tidak dapat mencari solusi dari masalahnya. Anak mungkin akan membuang atau meninggalkan mainannya dan tidak mau lagi memainkannya.

Pada saat seperti itu, sebaiknya Bunda membantu anak untuk menemukan permasalahan yang dihadapinya, kemudian memberikan kesempatan anak memikirkan jalan keluarnya. Apabila anak sudah sangat frustrasi (menangis, membuang mainannya), orangtua dapat menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan masalah dan biarkan anak mengamati kemudian mencontohnya. Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah memuji usaha anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

USIA PRASEKOLAH

Pada usia 5-6 tahun anak mulai berkreasi saat bermain, contohnya menggunakan potongan kertas untuk bermain masak-masakan, menyusun kardus atau kotak untuk arena balap mobil, menyelesaikan puzzle yang lebih kompleks, dan mengelompokkan mainannya (Developmental Milestones, Rebecca J. Scharf, Graham J. Scharf, dan Annemarie Stroustrup, jurnal Pediatrics in Review).

Aspek fundamental dalam perkembangan kognitif dan problem solving adalah memori, kemampuan untuk berkreasi, perhatian atau konsentrasi, dan kecepatan memproses informasi. Apabila kemampuan anak dalam berkonsentrasi, mengingat, berkreasi, dan mengolah informasi yang didapatnya baik maka kemampuan problem solving-nya juga baik.

Keterampilan memecahkan masalah merupakan bekal untuk anak mengatasi kesulitan atau hal-hal baru yang dihadapinya dalam beraktivitas sehari-hari, di sekolah, atau kelak di masyarakat. Anak menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah atau kesulitan yang dihadapi. Anak juga terlatih untuk menjadi kreatif karena dibiasakan untuk menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang dapat dipikirkannya.

Bunda yuk baca juga artikel mengenai pemecahan masalah di artikel “Main Puzzle Asah Kemampuan Pemecahan Masalah Si Kecil”.