Home / Semua Usia / Mengasah Kecerdasan Si Kecil

Nov 17, 2017

Mengasah Kecerdasan Si Kecil

Share Article ini

Keinginan setiap Bunda dan Ayah mendapatkan anak yang cerdas sangat wajar. Namun tentunya semua ini tidak bisa didapat dengan instan. Ada stimulasi dan pola asuh yang dibutuhkan agar si Kecil menjadi anak yang cerdas.

Kecerdasan selalu dihubungkan dengan kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. Di bidang akademik, kecerdasan seorang anak dapat diukur lewat tes IQ.

Tes  IQ dapat mengukur kemampuan verbal, logik matematika, dan spasial, yaitu sejumlah kemampuan yang dikembangkan di dalam lingkup akademis. Hasil tes digambarkan dalam bentuk skor atau kategori skor.

Sebagai alat untuk mengukur potensi kecerdasan akademis, IQ tepat digunakan untuk meramalkan kesuksesan seorang anak di bidang akademis kelak.  Misal, si Kecil dapat diukur sejumlah potensi akademisnya sehingga dapat ditentukan apakah ia siap atau tidak untuk masuk sekolah.

Setiap orangtua tentu ingin buah hatinya tak hanya sehat tapi juga cerdas. Bunda dan Ayah boleh jadi bangga bila buah hatinya meraih ranking terbaik di kelas. Atau, ketika mengetahui hasil tes IQ mencapai skor yang tinggi.

Menurut dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH, mewujudkan pribadi yang unggul dan cerdas di masa depan tidak bisa instan. “Ada sejumlah hal yang perlu dilakukan orangtua. Bahkan kalau menurut para ahli kesehatan, persiapannya sudah dimulai sejak sebelum kehamilan.”

Menurut berbagai penelitian, diyakini setiap individu dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik. Akan tetapi, seberapa besar pengaruh genetik terhadap kecerdasan anak masih dalam perdebatan.

Di luar faktor genetik ini, sebenarnya ada hal lain yang sangat memengaruhi kecerdasan. “Hal ini sering kali luput dari perhatian kita bahwa lingkungan turut  berperan dalam inteligensi seseorang. Dalam hal ini, orang terdekat seorang anak, yaitu orangtua yang memegang peran penting dalam mengasah atau menstimulasi kecerdasan anak,” kata dokter anak di Divisi Tumbuh Kembang—Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI–Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini.  Faktor lingkungan ini, justru lebih jelas memperlihatkan kontribusinya terhadap kecerdasan si Kecil.

Lalu, bagaimanakah orangtua bisa memberikan suasana lingkungan yang kaya fasilitas penunjang kecerdasan, memberikan stimulasi pendidikan dan pelatihan yang memadai bagi buah hatinya? Dokter Bernie memberikan saran bagaimana caranya;

  • Memahami tumbuh kembang anak. Bunda Ayah perlu memahami tahapan perkembangan yang normal pada anak sehingga dapat dijadikan patokan atau ukuran dalam menentukan apakah seorang anak sudah mampu mencapai tahap perkembangan seperti anak seusianya atau belum. Misal, pada bayi, bagaimana perkembangan kemampuan motor dan bahasa. Sementara pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal, dan sosial. Pemahaman akan setiap tahapan tumbuh kembang anak akan menuntun Bunda dan Ayah mengetahui nutrisi terbaik dan stimulasi yang harus diberikan sesuai perkembangan usia si Kecil.
  • Memerhatikan kebutuhan gizinya.  Periode emas seorang anak sebetulnya sudah dimulai sejak dirinya berada dalam kandungan ibunya. Periode ini semakin mencapai kepesatannya di usia batita (1-3 tahun). Selama masa tersebut, nutrisi dan stimulasi otak menjadi hal yang amat penting untuk diberikan kepada si buah hati karena ini merupakan masa terbaik untuk segala pembentukan kecerdasan si kecil.  Dengan pola makan bergizi seimbang, si Kecil akan tumbuh dan berkembang optimal, termasuk kecerdasannya. Jika orangtua tidak memerhatikan periode kritis ini, kegagalan tumbuh kembang akan terjadi dan berlangsung permanen, yang akan terbawa terus hingga dewasa.
  • Memberikan stimulasi dengan kasih sayang.  Pola asuh dan lingkungan yang penuh kasih sayang akan menjadi bekal terbaik bagi perkembangan intelektual dan emosional anak.Contohnya, Bunda dan Ayah memberi kesempatan pada si Kecil untuk bereksplorasi seluas-luasnya karena hal ini akan mengasah kecerdasannya. Orangtua juga memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi seluas-luasnya, karena akan memperkaya pengalaman emosionalnya. Misalnya, dengan cara berpura-pura melakukan permainan dan menjadi teman barunya. Selain itu, di rumah juga perlu menerapkan disiplin dan mengajarkan sikap tanggung jawab pada hal-hal kecil.  Misal, membereskan mainannya atau membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Hal-hal kecil seperti ini jadi modal untuk hal lebih besar ke depannya. (*)

Bunda yuk baca juga artikel tentang kecerdasan Si Kecil di artikel " 4 Hal yang Mempengaruhi Perkembangan Otak Si Kecil"