Home / Semua Usia / Memilih Mainan Stimulatif yang Tepat Sesuai Usia Si Kecil

Jul 18, 2017

Memilih Mainan Stimulatif yang Tepat Sesuai Usia Si Kecil

Share Article ini

Siapa yang tidak senang bermain? Dunia anak usia 1 hingga 5 tahun adalah bermain. Tetapi, Bunda juga harus paham bahwa mainan tidak hanya untuk bersenang-senang saja! Mainan yang si Kecil punya ternyata dapat membantu anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan.

Mainan juga bisa menjadi media stimulasi tepat bagi si kecil. “Bermain merupakan sarana anak untuk rekreasi, belajar, berpikir kreatif, daya imajinasi anak, kemampuan berpikir logis, mengekspresikan diri, mengenal norma dan aturan sosial, sosialisasi dan emosi,” ujar psikolog Adisti F. Soegoto, M.Psi.

MAINAN SENSORIK

Lalu mainan seperti apa ya yang tepat untuk si Kecil? Tentu saja Bunda perlu memilih mainan anak sesuai dengan perkembangan usianya. Mainan sensorik yang bertujuan mengasah indra anak bisa diberikan di usia 1 hingga 3 tahun. Di antaranya mainan warna-warni yang menarik untuk menstimulasi kemampuan visual dan mainan berbunyi untuk menstimulasi indra pendengaran. Lebih baik lagi jika satu mainan bisa menstimulasi beberapa indra sekaligus, seperti mainan alat musik piano atau tetabuhan yang didesain berwarna warni.

Untuk kemampuan perabaan si Kecil, berikan mainan yang memiliki tekstur berbeda-beda seperti kasar, lembut, keras, atau empuk. Bunda tak perlu pusing-pusing membelikan mainan yang mahal untuk si Kecil. Bermain di luar ruang akan sangat membantunya mengenal berbagai perbedaan tekstur misalnya tekstur pasir dan air, hangat dan dingin, atau tanah dan rumput.

Untuk mengasah kemampuan penciuman dan pengecapan, berikan “mainan” dari benda atau bahan-bahan yang ada di rumah. Si kecil bisa diajak mencium harumnya bunga di halaman, atau sabun mandi dan sampo yang digunakan. Di dapur, ia juga boleh diajak mencicipi gula, garam, dan asamnya air perasan jeruk.

MAINAN MOTORIK

Pada usia 1 hingga 2 tahun, si Kecil baru saja mengalami lompatan perkembangan pada kemampuan motorik kasarnya, yaitu berjalan, memanjat, dan berlari. Untuk melatih kemampuan motorik kasarnya, Bunda bisa memberinya mainan yang menantang kemampuan berjalan, merayap, memanjat, berguling, atau  berlari seperti permainan terowongan. Mainan kereta dorong juga bisa Bunda berikan untuknya agar semakin lancar berjalan.

Seiring berjalannya usia, mainan dan permainan anak harus bisa mengikuti tumbuh kembangnya. Saat anak berusia 2 hingga 3 tahun misalnya, ia akan senang diajak melakukan permainan pura-pura misalnya masak-masakan atau main dokter-dokteran. Bunda juga bisa memberinya mainan blok yang bisa disusun menjadi sesuatu sesuai dengan imajinasinya.

“Stimulasi yang diberikan pada usia 2-3 tahun biasanya lebih kompleks, melibatkan latihan kooordinasi mata dan gerakan dalam permainan,” ujar Adisti. Selain itu, anak juga banyak belajar mengenai perkembangan bahasa. Misalnya saat bermain masak-masakan atau robot-robotan, Bunda bisa mengajak si Kecil untuk bercerita dan berimajinasi. Bunda juga bisa terlibat dalam percakapan selama bermain agar si Kecil mendapatkan kosa kata baru yang tentunya baik untuk perkembangan bahasanya.

PERMAINAN SOSIAL-BAHASA DAN SKOLASTIK

Mainan juga dapat memberikan stimulasi bagi perkembangan sosial anak. Saat menginjak usia 4 hingga 5 tahun atau  usia prasekolah, si Kecil membutuhkan mainan dan permainan yang lebih kompleks alias menantang. Lantas di mana letak manfaat sosialisasi dan bahasanya?

“Permainan untuk anak usia 4-5 tahun sudah bisa dilakukan bersama-sama dengan aturan bermain. Selama bermain bersama-sama, anak tentu harus berkomunikasi menggunakan bahasa. Hal ini yang akan melatih kemampuan bersosialisasi dan berbahasa anak,” ujar Adisti. “Permainan pada usia 4-5 tahun juga sebaiknya melibatkan kemampuan skolastik dasar seperti kemampuan berhitung atau mengenal huruf dan angka.”

Menurut Adisti, Bunda perlu terlibat dalam setiap permainan yang dilakukan oleh si Kecil. “Memberikan anak segudang mainan akan kurang bermanfaat jika tidak dibarengi dengan interaksi anak dan orangtua saat bermain,” ujarnya. Interaksi ini akan membantu si Kecil  memahami manfaat dari mainannya. Meskipun mainan memang banyak manfaatnya, Adisti menekankan bahwa bermain perlu dibarengi dengan interaksi antara anak dan orangtua. Dengan begitu, selama bermain Bunda dan si Kecil bisa membangun ikatan emosi yang semakin kuat. Bunda yuk baca juga artikel mengenai mainan si Kecil di artikel “Dukung Eksplorasi Si Kecil dengan Mainan Aman"