Home / Semua Usia / Kekurangan Gizi Pada Si Kecil Bisa Diatasi, Lihat Caranya!

Dec 15, 2017

Kekurangan Gizi Pada Si Kecil Bisa Diatasi, Lihat Caranya!

Share Article ini

Meskipun Bunda telah berusaha memenuhi semua kebutuhan makannya, si Kecil bisa saja mengalami defisiensi gizi, yang menurut Natalie Butler, RD, LD, ahli gizi dari Healthline, adalah kondisi di mana tubuh tidak menyerap sejumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kondisi kekurangan gizi ini mungkin tidak terlihat, karena itu Bunda perlu memahami bagaimana memastikan anak telah mengonsumsi nutrisi  yang memang ia butuhkan untuk pertumbuhannya.

Pada dasarnya, ada beberapa hal yang menyebabkan si Kecil rentan terhadap kekurangan gizi :

  • Anak sedang berada dalam fase tumbuh kembang yang sangat pesat, sehingga membutuhkan zat gizi yang tinggi. Jika dilihat dari kebutuhan untuk setiap kilogram berat badan maka anak membutuhkan zat gizi lebih tinggi dibanding orang dewasa. Seperti dipaparkan dalam WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi)-LIPI tahun 2004, untuk setiap kilogram berat badan anak membutuhkan energi lebih kurang 70 - 90 kkal, sedang wanita dewasa hanya membutuhkan 25 kkal untuk setiap kilogram berat badannya. Pada laki laki dewasa, dibutuhkan 30 kkal setiap kilogramberat badannya. 

Tabel Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi-LIPI, 2004

GOLONGAN UMUR (TAHUN)

KECUKUPAN ENERGI (KKAL/KGBB/HARI)

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

0-1 TAHUN

110-120

>1-3 TAHUN

100

4-6 TAHUN

90

7-9 TAHUN

80-90

60-80

10-14 TAHUN

50-70

40-55

14-18 TAHUN

40-50

40

≥ 19 TAHUN

30

25

  • Aktivitas anak meningkat sehingga terjadi peningkatan pengeluaran energi yang semakin membuat anak membutuhkan gizi lebih tinggi.
  • Perubahan tekstur makanan yang semula cair menjadi padat, membuat anak balita kesulitan dalam menerima makanan. Ketidakmampuan dalam mengombinasikan makanan membuat kualitas makanan anak balita di Indonesia belum bergizi seimbang.
  • Adanya infeksi pada anak (jenis infeksi paling tinggi yang terjadi pada anak Indonesia adalah ISPA dan diare) yang akan mengganggu metabolismenya, keseimbangan hormonal, dan fungsi kekebalan yang pada akhirnya menimbulkan terjadinya defisiensi zat gizi pada anak.

Kondisi tersebut didukung hasil penelitian SEANUTS Indonesia yang menggambarkan, lebih dari setengah dari anak yang berpartisipasi sebagai sampel, asupan makanannya masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia. Zat gizi tersebut adalah vitamin A, zat besi, dan zink. Kekurangan vitamin A bisa menyebabkankematian karena diare dan penyakit campak, sedangkan kekurangan zat besi dapat menurunkan kemampuan kognitif anak. Anak yang kekurangan zink akan meningkatkan resiko diare, pneumonia, dan malaria, demikian menurut Edith &Sandjaya dalam artikel “Asupan Zat Besi, Vitamin A dan Zink Anak Indonesia Umur 6-23 Bulan” (Penelitian Gizi & Makanan, 2015).

Jika anak makannya banyak tetapi badannya tetap kurus, menurut ahli gizi Dr. (c) Rita Ramayulis, DCN, MKes, hal ini karena ada masalah dalam penyerapan zat gizi akibat masalah kesehatan pada saluran  pencernaannya. Selain itu, adanya infeksi pada anak sehingga sebagian besar energi  dan zat gizi  yang diperoleh tubuhnya akan digunakan untuk meningkatkan sistem imun guna melawan infeksi. Dalam keadaan infeksi, fungsi organ akan melemah termasuk organ pencernaan sehingga pencernaan zat gizi berjalan tidak maksimal.

Saat anak mengalami keadaan kekurangan gizi maka produksi antibodi anak juga menurun sehingga semakin memperbesar peluang terjadinya penyakit infeksi, demikian dipaparkan Dirce MG Duarte dan Clóvis Bothelho dalam “Clinical Profile of Children under 5 Years of Age with Acute Respiratory Tract Infections” (2000). Konsentrasi antibodi antiradangparu-paru pada anak dengan status defisiensi gizi juga sangat rendah, sehingga meningkatkan risiko terserang infeksi saluran pernafasan seperti ISPA.

Kekurangan gizi tidak boleh dibiarkan, karena akan menyebabkan pertumbuhan anak melambat dan pada akhirnya pencapaian tinggi dan berat badan lebih rendah dari tinggi dan berat badan yang harus dicapai berdasarkan tahapan usia anak.  Ketika defisiensi gizi terjadi pada proses pembentukan sel otak maka terjadilah gangguan pertumbuhan otak yang kemudian berpengaruh pada perkembangan si Kecil. 

Dalam keadaan defisiensi zat gizi, anak juga tidak mempunyai energi cukup untuk bereksplorasi dengan lingkungan sehingga fungsi otak dan organ lain semakin tidak berkembang. Akibatnya, menurut H. Marimbi dalam  “Tumbuh Kembang, Status Gizi &  Imunisasi Dasar Pada Balita” (Yogyakarta: Nuha Medika, 2010), anak akan mengalami berbagai keterlambatan perkembangan motorik  seperti gangguan gerak, bicara dan bahasa, gangguan mental dan ketidakmampuan bersosialisasi dengan lingkungan.

Tips memperbaiki status defisiensi gizi pada anak:
* Perbaiki pola makan si Kecil dengan memberikan makanan dan minuman padat gizi.
* Pada anak berusia di bawah 1 tahun yang masih mengonsumsi ASI, berikan ASI sesering mungkin.
* Untuk anak yang tidak mengonsumsi ASI, beri aneka ragam makanan yang padat energi, protein, dan cukup zat gizi mikro, demikian disarankanAsosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalambuku “Penuntun Diet Anak Edisi 2”.
* Berikan susu dengan komposisi gizi makro dan mikro.
* Berikan makanan dalam porsi kecil, tetapi sering. Idealnya setiap 3 jam dalam bentuk makanan utama dan selingan secara bergantian.

Segera penuhi semua kebutuhan gizi anak tersebut ya, Bunda, agar tumbuh kembang si Kecil dapat berjalan maksimal. Bunda yuk baca juga artikel tentang gizi si Kecil di artikel  "6 Cara agar Si Kecil Cinta Makanan Bergizi untuk Anak