Home / Semua Usia / 5 - 12 tahun / Si Kecil Bosan dengan Makanannya? Berikut Tipsnya

Jan 04, 2018

Si Kecil Bosan dengan Makanannya? Berikut Tipsnya

Share Article ini

Si Kecil mulai pilih-pilih makanan atau maunya makan yang itu-itu saja, adalah problem klasik yang kerap Bunda alami. Namun yang sering membuat cemas adalah ketika si Kecil bosan dengan makanan yang biasanya ia sukai. Karena, Bunda tidak lagi dapat menjamin bahwa si Kecil akan cukup makan dengan menu yang sebelumnya menjadi andalan. Bunda harus kembali menemukan pilihan makanan sehat dan mengajarkan kebiasaan makan yang baik sebagai bekal menjalani hidup yang berkualitas hingga dewasa.

Ahli gizi Dr. (c) Rita Ramayulis, DCN, MKes, memiliki pendapat berbeda. “Bunda harus tahu bahwa anak sebenarnya tidak bosan pada makanan, tetapi tidak mampu mengambil makanan dalam porsi besar. Kadang-kadang baru empat suap, anak sudah tidak mau dan dibilang bosan. Sebenarnya itu karena kemampuan perut anak tidak sama.”

Namun, jika si Kecil memang bosan atau kehilangan minat dengan makanan yang biasa disukainya, ini yang bisa Bunda lakukan:

  1. Kenalkan variasi jenis makanan.Menurut Rita, yang dimaksud variasi makanan ada dua: pertama, setiap kali makan harus mendapat variasi makanan dari kelompok makanan yang berbeda. Misalnya, sekali makan mendapat karbohidrat, protein hewani, dan sayur (tiga kelompok). Lebih bagus lagi jika ditambahkan buah dan protein nabati.

Kedua, variasi jenis masing-masing kelompok makanan. Untuk karbohidrat, selain nasi si Kecil juga dikenalkan dengan jagung dan tepung-tepungan secara bergantian. Dari kelompok protein ada daging sapi, ayam, ikan, tahu, atau tempe. Kelompok sayur, ada sayuran hijau, oranye, atau putih. Sangat baik jika anak mendapatkannya secara bergantian karena tiap warna berbeda zat gizinya.

 

  1. Ubah teknik pengolahan makanan. Teknik pengolahan masakan rumahan di Indonesia umumnya digoreng. Padahal masih banyak teknik pengolahan makanan yang bisa dilakukan, seperti memanggang, mengukus, memepes, atau menumis. Teknik masakan yang berbeda menghasilkan bentuk dan sensasi makan yang berbeda.

“Ketika menghadirkan teknik pengolahan yang berbeda, selalu ingat apa yang disuka dan tidak disuka anak. Efek negatifnya kalau anak mendapat yang tidak disuka, dan mood-nya lagi jelek, efek traumanya lama. Misalnya ia tidak suka lele, akhirnya dia bisa tidak suka lele sampai lama,” ujar Rita.

 

  1. Perhatikan teknik penyajiannya. Gunakan  peralatan makan anak yang berbeda dengan yang dipakai orang dewasa. Anak  senang memakai alat makan yang memakai karakter tokoh-tokoh kartun kesukaannya, biasanya dan itu menambah semangatnya untuk makan.

 

  1. Pastikan suasana makan tidak monoton. Bunda bisa memakai tema ruang tengah, taman, atau kamar. Tempat makannya juga tidak harus di ruang makan, bisa di beberapa ruangan secara bervariasi. Bila perlu, libatkan teman-teman di sekitar rumah. Sertai dengan mainan yang tidak membuat anak lupa pada makanan, seperti tebak makanan atau tantangan mencoba makanan baru. Hindari bermain game yang membuat anakfokus ke layar ponsel atau tabletnya.

“Usahakan supaya sebelum makan anak tidak makan yang manis-manis, karena membuat ia tidak berselera makan. Waktu cemilan anak sebaiknya lebih dekat ke waktu makan sebelumnya.  Misal sarapan pukul 07.00 dan makan siang pukul 12.00. Berikan cemilan pukul 09.00, supaya anak tidak kekenyangan saat makan siang,” saran Rita.

 

5.    Sajikan makanan dengan bentuk yang menarik. Ajak si Kecil ikut menghias  makanannya dengan membentuk mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya. Siasati, meskipunporsinya kecil tapi gizinya banyak. Hindari merendam nasi dengan kuah sayur atau daging, karena membuat si Kecil cepat kenyang.

 

6.    Beri sugesti positif tentang makanan. Ketika usia anak semakin bertambah, Bunda bisa mengenalkan makanan dengan sugesti-sugesti positif. Misalnya, bahwa makanan tersebut bermanfaat bagi tubuh anak. Gunakan role model atau tokoh kesukaan anak untuk menjelaskan hal tersebut. Libatkan anak untuk menentukan citarasa makanan yang ingin dia kenal saat itu. Beri kesempatan padanya untuk memilih makanan yang ingin ia coba berikutnya. Dengan cara itu anak lebih tertantanguntuk mencoba makanan baru. Lakukan kebiasaan ini secara konsisten dan terus-menerus.

“Ciptakan suasana makan yang komunikatif, termasuk memberikan pujian pada anak yang berhasil menghabikan target gizi. Tidak boleh ada paksaan maupun ancaman pada anak untuk memakan makanannya. Setidaknya, minimalkan desakan itu walaupun tidak sabar, karena efeknya bisa membuat anak trauma pada makanan,” jelas Rita.

 

Satu trik lain jika anak bosan dengan makanan yang biasanya ia sukai, adalah dengan memasukkan susu ke dalam menu makanannya. Karena anak umumnya suka susu, campurkan susu ke dalam cemilan maupun makanan utamanya menjadi one dish meal seperti makaroni skotel. Susu bisa dicampurkan ke dalam adonan telur dadarnya agar lebih gurih, dijadikan sebagai pengganti santan seperti pada bubur kacang hijau, atau masakan ikan yang bersantan. Atau, jadikan susu bubuk sebagai taburan pisang bakar keju, atau cairkan susu bubuk dengan madu dan air lalu jadikan olesan roti bakar.

Menarik sekaligus menantang, bukan, menciptakan variasi makanan untuk si Kecil? Yuk, keluarkan kreativitas Bunda untuk mencampur dan memodifikasi bahan-bahan makanan untuk menjadi menu makanan lezat dan bergizi untuk si Kecil!

Bunda, yuk baca juga artikel tentang makanan si Kecil di artikel "Ketahui Variasi Resep Makanan Sehat untuk Anak"