Home / Semua Usia / 1 - 3 tahun / Pentingnya Kolaborasi Mengasuh Si Kecil

Dec 22, 2017

Pentingnya Kolaborasi Mengasuh Si Kecil

Share Article ini

Kolaborasi Bunda dan Ayah akan mendukung dalam memberikan yang terbaik bagi si Kecil. Mulai asupan bergizi seimbang, stimulasi, menerapkan pola asuh dan sebagainya, sehingga si Kecil dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

Dual parenting/kolaborasi hanyalah salah satu dari poin penting dalam upaya mencapai pengasuhan ideal. Faktor lainnya yang juga perlu dipahami adalah kesiapan menjadi orangtua, adanya kesepakatan tujuan pengasuhan, komunikasi yang hangat, positif dan efektif, penanaman nilai-nilai agama, memahami karakter dan kebutuhan anak serta adanya aturan yang disepakati dalam keluarga.

Menurut dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH,  meski sama-sama bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, peran Bunda dan Ayah tidaklah sama.  Mengapa berbeda, lihat penjabarannya sebagai berikut;

PERAN BUNDA

1.          Bunda adalah pelindung bagi si Kecil. Sejak lahir, si Kecil merasa terlindungi bila di dekat ibunya. Bunda melindungi anak dari bahaya lingkungan, dari orang asing, dan dari diri mereka sendiri. Saat anak mulai tumbuh dewasa, Bunda tetap menjadi pelindungnya, lebih dari pelindung dalam segi emosional. Bunda selalu mendengarkan keluhan anaknya dan selalu ada untuk memberikan kenyamanan saat si Kecil membutuhkannya. Jika anak dapat mempercayai Bunda, anak akan percaya diri dan memiliki keamanan emosional.

2.         Bunda merangsang mental dan emosional karena selalu berinteraksi dengan si Kecil, melalui permainan atau percakapan, yang merangsang kemampuan kognitif anak. Bahkan permainan bentuk fisik dengan Bunda tetap mengikuti aturan yang dibutuhkan anak untuk mengoordinasikan mental tindakan mereka. Bunda yang membuat  mental anak kuat untuk menghadapi dunia luar ketika ia pertama kali meninggalkan rumah untuk sekolah.

3.         Sebagai seorang ibu dan pengasuh utama di awal-awal kehidupan anak, Bunda menjadi orang pertama yang membuat ikatan emosional dan keterikatan dengan anak. Hubungan ibu dan anak yang terbentuk selama tahun-tahun awal akan sangat memengaruhi cara anak berperilaku dalam pengaturan sosial dan emosional di tahun-tahun berikutnya.

4.         Bunda umumnya mampu menjaga keseimbangan antara memberi aturan ketat dan memanjakan anak. Bunda terus menanamkan rasa tanggung jawab pada si Kecil. Bunda juga yang mengajarkan bagaimana mengelola dan berkomitmen dengan waktu, dengan cara mengajarkan anak melakukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.

PERAN AYAH

Peran Ayah tidak kalah penting dari peran Bunda, namun sering terabaikan karena tugas ayah sebagai pencari nafkah utama banyak menguras waktu dan energi.

Walaupun mungkin waktu yang dihabiskan Ayah dengan si Kecil lebih sedikit, tetapi peran Ayah sangat penting bagi anak. Berikut ini beberapa peran Ayah dalam pengasuhan si Kecil:

1.          Menumbuhkan rasa percaya diri dan kompetensi kepada si Kecil melalui kegiatan bermain yang melibatkan fisik baik di dalam maupun di luar ruangan.

2.         Menumbuhkan kebutuhan akan berprestasi pada si Kecil melalui kegiatan mengenalkan anak tentang berbagai kisah tentang cita-cita.

3.         Membangun kecerdasan emosional si Kecil. Seorang anak yang dibimbing oleh ayah yang peduli, perhatian dan menjaga komunikasi akan berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat dan memiliki pengendalian emosi yang lebih baik.

4.         Pada anak lelaki, mengajarkan tentang peran jenis kelamin kepada anak laki-laki, tentang bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang laki-laki.

5.         Berbeda dengan interaksi antara ibu dan anak, interaksi ayah dan anak lebih sering dilakukan dengan bercanda dan bermain fisik. Interaksi fisik antara anak dan ayah dapat menunjukkan kepada anak bagaimana menangani emosi, seperti kejutan, rasa takut, dan kegembiraan.

6.         Ayah menjadi panutan kesuksesan/prestasi. Sebuah studi yang dilakukan oleh  Father Involvement Research Alliance di Amerika Serikat pada 2013 menunjukkan bahwa jika ayah menunjukkan kasih sayang, mendukung, dan terlibat dalam kegiatan anaknya, ayah dapat berkontribusi besar terhadap perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial anak, serta berkontribusi pada prestasi akademik, kepercayaan diri, dan jati diri anaknya. Untuk anak laki-laki, mereka akan menjadikan ayah sebagai panutan untuk dirinya. Mereka akan meminta persetujuan ayah atas segala sesuatu yang mereka lakukan dan sebisa mungkin melakukan kesuksesan yang sama seperti ayah mereka, bahkan jika bisa lebih dari ayahnya.

Dokter Bernie mengungkapkan, pola asuh sejatinya berdasar pada tiga pilar utama, yaitu nutrisi, cinta dari orangtua dan stimulasi yang tepat. “Memenuhi kebutuhan nutrisi adalah kunci utama untuk memenuhi kebutuhan energinya sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh agar si kecil nggak gampang sakit saat bereksplorasi.”

1.        Nutrisi

Sumber gizi dan nutrisi si Kecil yang utama adalah makanan sehari-hari. Makanan itu sejatinya harus  menerapkan pola gizi seimbang yang cukup serat, karbohidrat, protein dan mineral. Pemberiannya pun harus disesuaikan usia si Kecil. Misalnya, di usia 1-3 tahun, si Kecil butuh asupan yang lebih banyak mengandung nutrisi yang bermanfaat untuk tumbuh kembang otak seperti omega-3, AHA dan DHA. Hal ini berdasarkan pada banyak studi di mana 1000 hari pertama kehidupan merupakan momen pembentukan 98% otak anak.

2.      Stimulasi
Sebagai bentuk stimulasi, Bunda Ayah dapat mendukung eksplorasi si Kecil sesuai kebutuhannya. “Ingat, di masa balita, pertumbuhan anak sedang pesat-pesatnya. Ia sedang aktif bergerak, sehingga senang menjelajah ke sana kemari. Rasa ingin tahunya juga sangat besar, sehingga senang mengamati, menyentuh, dan mencoba tentang hal-hal baru. Tugas Bunda Ayah untuk mengakomodasi perkembangan anak tersebut. Jangan sedikit-sedikit melarang karena rasa khawatir yang berlebihan.”

3.       Cinta

Terakhir, berikan cinta yang utuh kepada si Kecil. Misalnya memberikan waktu yang berkualitas pada saat bersamanya. Dokter Bernie mencontohkan, saat bersama si Kecil, jauhkan gadget dari jangkauan. “Fokuslah hanya pada anak, jangan terganggu oleh hal-hal lain. Lakukan ini secara konsisten niscaya anak akan tumbuh dalam suasana penuh cinta yang pada akhirnya bisa mendorongnya menjadi pribadi yang penuh kasih sayang dengan rasa percaya diri tinggi.” (*)

Bunda, yuk baca juga artikel tentang cara mengasuh si Kecil di artikel  "Beda Pengasuhan Orangtua Millenial dan Orangtua Zaman Dulu”