Stimulasi

Stimulasi 5 Aspek Kognisi Si Kecil Melalui Aktivitas Sederhana

10-09-2018

Stimulasi 5 Aspek Kognisi Si Kecil Melalui Aktivitas Sederhana

Bila ingin si Kecil cerdas, perhatikan stimulasi aspek kognisinya.

Ya, kognisi kalau disederhanakan berarti kemampuan otak untuk mengembangkan kemampuan rasional.  Kemampuan ini mencakup aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian (penghargaan dan evaluasi). Aktivitas ini jelas melibatkan kemampuan berpikir si Kecil. Bagaimana ia mengolah informasi, memecahkan masalah, dan bereaksi terhadap sebuah peristiwa. Semakin baik kemampuan kognisi si Kecil, semakin cepat ia menguasai sesuatu serta semakin tepat dia bertindak. 

Pertanyaannya, bagaimana cara melatih kognisi si Kecil? Gisella Tani Pratiwi, M.Psi menuturkan, ada 5 aspek yang dapat diasah agar kemampuan kognisi si Kecil berkembang optimal, berikut di antaranya:

Atensi

Atensi adalah istilah lain dari perhatian, sebuah proses menangkap informasi dengan indra, proses mengingat, maupun proses kognitif lainnya. Anak dengan atensi baik dapat memusatkan dan mempertahankan konsentrasi pada aktivitas yang dilakukan, misal, saat menyusun  balok, menggambar, dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Kemampuan ini di masa sekolah sangatlah penting, karena anak harus memusatkan perhatian pada berbagai hal yang terkait dengan materi akademis.

 

Normalnya, menurut Gisella, kemampuan atensi yang sebaiknya dimiliki anak 1-2 tahun adalah 5 menit, anak 3-4 tahun 10 menit, dan anak 4-5 tahun 15 menit. Meski begitu, tetap saja pada masa balita, kemampuan konsentrasi anak tidak sebaik usia di atasnya. “Anak-anak mungkin saja masih mudah terdistraksi (teralih perhatiannya) saat di sekolah. Selain karena kemampuan konsentrasi masih berkembang, si Kecil juga sedang dalam masa eksplorasi dimana rasa keingintahuannya sangat besar, sehingga mudah teralih pada hal-hal yang menarik perhatiannya,” kata Gisella. Jadi meski perhatian si Kecil masih mudah teralih, bukan berarti ia tidak memiliki kemampuan berkonsentrasi.

 

Stimulasi:

Berikut stimulasi yang dapat diberikan agar atensi si Kecil optimal:

1. Belajar lewat komunikasi sehari-hari.

Saat berkomunikasi dengan si Kecil, posisikan tubuh orangtua sejajar dengannya, sehingga ia nyaman berbicara tanpa perlu mendongakkan kepala. Cobalah berbicara dengan jelas, runut, dan tidak terburu-buru. Tatap wajah dan mata si Kecil saat berkomunikasi. Lakukan pembicaraan sampai tuntas. Hal yang sama berlaku saat si Kecil mencoba berbicara dengan orangtua. Hindari berkomunikasi sambil lalu, bermain handphone, atau mendengarkan seperlunya.

2. Membacakan Cerita

Ini sangat baik mengasah konsentrasi, atensi, dan imajinasi si Kecil. Pilih buku dongeng menarik sesuai dengan usia si Kecil. Minta ia untuk mendengarkan dengan baik, berikan intonasi dan nada yang sesuai dengan  jalan cerita. Bacakan cerita sampai selesai. “Dengan cara itu, si Kecil tahu setiap aktivitas memiliki permulaan sekaligus akhir,” kata Gisella.  

3. Hindari Kebiasaan Memotong Pembicaraan

Memotong pembicaraan tidak mengajarkan kepada si Kecil bagaimana menjadi pendengar yang baik. Dengan kata lain, ajari si Kecil agar tidak melakukan hal ini. Orangtua harus menjadi teladan, saat menjadi pendengar bagi anak, jangan dulu menginterupsi sebelum anak menyelesaikan pembicaraannya.

4. Mainan atau Alat Bantu

Ada banyak sekali mainan atau alat bantu yang dapat  melatih atensi si Kecil, seperti balok susun, mainan kartu, meronce manik-manik, atau menyusun puzzle. Namun, hindari memberikan stimulasi berlebihan saat bermain. Pada gilirannya, biarkan anak bermain sesuka hati mengikuti imajinasinya.

 

Bahasa

Kemampuan berbahasa atau kemampuan berbicara yang perlu dilatih di masa balita adalah kemampuan ekspresif dan kemampuan reseptif. Kemampuan ekspresif adalah kemampuan si Kecil berkata-kata, menyuarakan nada, mengungkapkan emosi, dan lain-lain. Sedangkan kemampuan reseptif adalah bagaimana si Kecil menyerap, menangkap, dan memahami apa yang disampaikan. Anak usia 1-2 tahun, kemampuan ekspresifnya masih terbatas karena kemampuan berbicaranya masih terbatas, tapi kemampuan reseptifnya sudah berkembang dengan baik. Ini berbeda dengan anak 3-5 tahun yang  kemampuan reseptif dan ekspresifnya sudah berkembang dengan pesat.

 

Stimulasi:

  1. Banyak-banyaklah berkomunikasi dengan si Kecil, sehingga perbendaharaan kosakatanya akan meningkat pesat. Kemampuan eksresif dan reseptifnya meningkat.
  2. Kenalkan dan tegaskan berbagai emosi lewat kata-kata, baik senang, sedih, marah, malu, dan lainnya. Gisella menyarankan agar orangtua memperlihatkan bagaimana perbedaan berbagai ekspresi emosi itu lewat intonasi, mimik muka, dan lainnya.
  3.  Hindari memberi si Kecil gadget tanpa pendampingan meski tujuannya untuk menghibur. Selain berisiko menyebabkan kacanduan, gadget juga dapat menghambat kemampuan berbahasa aktif, sehingga saat menggunakannya si Kecil dan Bunda harus tetap berinteraksi, seperti mengenalkan warna, binatang, dan lainnya.
  4. Hindari menonton teve terlalu lama.
  5. Gunakan flash card agar si Kecil lebih banyak mengenal kosakata.
  6. Sebelum mengenalkan bahasa asing, pastikan si Kecil menguasai bahasa ibu terlebih dahulu agar ia tidak mengalami bingung bahasa.

 

Memori

Memori adalah kemampuan si Kecil mengumpulkan, menyimpan, dan mengeluarkan informasi yang diterima. Kemampuan memori sama halnya dengan kemampuan mengingat. Di usia balita, kemampuan daya ingat si Kecil masih terbatas. Untuk itu, orangtua perlu melatihnya.

 

Stimulasi:

  1. Menceritakan pengalaman sehari-hari. Misal, sehabis pergi bertamasya ke kebun binatang, coba ingatkan si Kecil pengalaman yang baru dialaminya, naik kendaraan apa, hal paling berkesan selama perjalanan, binatang apa sajakah yang ditemui, dan lain-lain.
  2. Setelah diacak, minta si Kecil mengurutkan kembali berbagai benda dari yang paling kecil ke paling besar atau sebaliknya.
  3. Bermain kartu. Perlihatkan dua atau tiga pasa kartu. Setiap pasang kartu harus bergambar sama. Jajarkan kartu-kartu itu, minta si Kecil mengingat gambar-gambar di kartu dan letaknya, lalu tutup kartu itu.  Setelahnya, perintahkan si Kecil untuk membuka satu kartu dan mencari pasangannya. Semakin kuat daya ingatnya, semakin mudah ia menemukan kartu yang dibukanya.
  4. Simpan beberapa mainan di beberapa tempat tersembunyi dengan mengajak si Kecil. Lalu, setelah semua mainan disembunyikan, minta si Kecil menemukan mainan yang Bunda sebutkan. Setiap kali ia bisa mengingat letak dan menemukan mainan yang dimaksud, berikan pujian.

 

Problem Solving (Kemampuan Memecahkan Masalah)

Ajari si Kecil kemampuan untuk memecahkan masalah sejak dini. Dengan kemampuan berpikir konkret yang merupakan kekhasan anak usia prasekolah, si Kecil bisa diajak mencari solusi yang juga bersifat konkret atau yang bisa dilihat, diraba, dan dipegangnya.

 

Stimulasi:

  1. Perlihatkan hubungan sebab akibat atau aksi dan reaksi. Misalnya, sediakan dua buah gelas berbeda ukuran, yang lebih besar terisi penuh dengan air, yang lebih kecil kosong. Minta ia menuang air dari gelas besar ke gelas kecil. Lihatlah, karena ukurannya yang lebih kecil, gelas itu tidak dapat menampung seluruh air dari gelas besar. Air pun tumpah.
  2. Ajak si Kecil memasukkan mainan ke lubang yang bentuknya sesuai. Perlihatkan apa yang  terjadi bila mainan dimasukkan ke lubang yang tidak sesuai dengan ukuran dan bentuknya.
  3. Biarkan si Kecil mencoba melakukan rutinitasnya sendiri tanpa dibantu. Misal, makan dan minum, buang air di toilet, memakai baju, dan sebagainya.
  4. Biasakan memberi solusi pada masalah  yang ditemui, misal, tidak membuang mainan yang rusak, tapi memperbaikinya.

 

Psikomotorik

Kemampuan psikomotorik berkaitan dengan kemampuan bertindak yang dilakukan si Kecil setelah mempelajari sesuatu. Kemampuan bertindak ini melibatkan aktivitas otot motorik kasar, misalnya lari, melompat, memukul dan aktivitas motorik halus seperti, menggambar, menulis, menjumput, dan memegang.

Stimulasi:

  1. Minta si Kecil untuk menggambar sesuai kemampuannya. Mulai corat-coret hingga menggambar objek yang jelas maksudnya.
  2. Minta si Kecil menjumput mainan atau benda kecil, lalu masukkan ke wadah.
  3. Ajak si Kecil  bergerak untuk melatih keseimbangan dengan berjalan di titian, memanjat, naik-turun tangga, merangkak, dan menangkap. Mengajaknya bersenam juga meningkatkan mood positif si Kecil.
  4. Bermain pasel,  bermain susun balok, dan menempel kolase.

Bunda, yuk baca juga artikel tentang stimulasi lainnya di artikel "Mengapa si Kecil Butuh Stimulasi?"