Katakan Iya Boleh untuk Eksplorasi Si Kecil | DANCOW Parenting Center
Parenting

Katakan Iya Boleh untuk Eksplorasi Si Kecil

09-06-2018

Katakan Iya Boleh untuk Eksplorasi Si Kecil

Pengalaman bereksplorasi adalah pengalaman hidup. Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan keterampilan bantu diri si Kecil dan membuatnya mandiri.

Apalagi, di usia 1 tahun anak sebenarnya bukan bayi lagi. Di usia ini, anak akan tertarik dengan dunia sekelilingnya, terutama jika hal itu merupakan sesuatu yang baru atau berbeda. Ia mulai ingin menjadi bagian dari apa pun yang Bunda lakukan. Tidak heran jika ia butuh bereksplorasi, mulai senang meniru, dan berkeras ingin mencoba melakukan banyak hal sendiri.

Jean Piaget (1936), bapak psikologi perkembangan anak, mengatakan perkembangan bernalar (kognitif) anak usia 1 tahun ditandai dengan masa eksplorasi aktif. Bagi Bunda, tentu saja hal ini mendatangkan rasa sukacita sekaligus cemas mengingat cara berjalan si Kecil belum mantap dan masih limbung. Sementara, tangannya ingin menggapai apa saja.

Rasa ingin tahu yang tinggi pada anak usia 12-18 bulan, menurut Piaget, menjadikan si Kecil bagaikan  seorang peneliti ulung. Ia giat melakukan percobaan-percobaan atas benda, juga memecahkan masalah sederhana dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Jika sebelumnya anak hanya tahu memegang sendok untuk mengambil makanan, maka kini dia mulai membuat percobaan kecil dengan sendok itu, misalnya, melempar sendok ke lantai, lalu melihat bagaimana sendok itu melayang dan menggelincir saat mendarat di lantai.

BAGIAN DARI PERKEMBANGAN SI KECIL

Bereksplorasi adalah proses ketika anak mencoba memahami hal-hal baru di sekelilingnya dengan cara bermain, melakukan investigasi (coba-coba), bertanya, membentuk dan menguji sesuatu yang baru, serta mewujudkan ide-ide dalam pikirannya. Dalam bereksplorasi anak menggunakan semua kemampuan yang melibatkan aktivitas indrawi (sensori), berpikir (kognitif), dan menggerakkan tubuh (motorik) untuk mengetahui dan memahami yang mereka lihat, raba, dan alami dari lingkungan sekitarnya.

“Anak-anak mendapatkan informasi atau pengetahuan dari aktivitasnya ini, sehingga kemudian membentuk keterampilan baru termasuk keterampilan berpikir,” tutur dr. Eva Devita, SpA(K), Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial di RSAB Harapan Kita.

Sebagian besar eksplorasi anak adalah melalui proses bermain dan pengalaman lainnya yang memungkinkan anak menjadi kreatif, berani mengambil resiko, dan menciptakan sebuah “penemuan”. Seiring pengalaman yang mereka dapatkan, anak-anak belajar untuk melakukan eksplorasi yang lebih kaya sehingga keterampilannya menjadi lebih baik lagi. Oleh karenanya eksplorasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam proses perkembangan seorang anak.

Manfaat eksplorasi untuk tumbuh kembang anak memang begitu besar. Menurut University of Illinois Extension, manfaat dari eksplorasi adalah :

  1. perkembangan kecerdasan anak. Keinginan anak untuk mempelajari dunia mendorongnya untuk menggunakan panca inderanya, baik itu perasa, penglihatan, penciuman, dan peraba. Indera ini membantu anak memahami bagaimana hal yang satu berbeda dengan yang lain. Dengan mencoba cara-cara baru untuk menguasai benda sambil menanyakan banyak hal, anak mulai belajar bagaimana memecahkan masalah. Misalnya ia sedang belajar minum susu dengan gelas isap (sippy cup). Dengan mengetuk-ketukkan gelas itu ke meja, ia bisa mendengar bagaimana suaranya. Dengan mengguncangnya, si Kecil jadi tahu apakah gelas itu masih penuh atau sudah kosong.
  2. bermanfaat untuk perkembangan sosial dan emosionalnya. Ketika si Batita tahu bahwa ia bisa mengeksplorasi lingkungannya, dan masih bisa kembali pada Bunda ketika ia butuh bantuan, ia akan merasa aman dan percaya diri.
  3.  eksplorasi juga penting bagi perkembangan fisiknya. Si Kecil mengembangkan koordinasi pada otot-otot besarnya untuk berjalan, berlari, memanjat, dan melompat. Ia juga mendapatkan koordinasi tangan dan mata ketika belajar memanipulasi benda. Ia harus terus bergerak untuk mempelajari dunia sekitarnya.

PERLUKAH KHAWATIR?

Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak, tapi proses untuk mencapainya ternyata tidak mudah. Memang melelahkan jika harus selalu mengawasi anak yang sedang giat bereksplorasi. Karena, apa yang membuatnya penasaran selalu terlihat berbahaya bagi Bunda. Selalu ada kekhawatiran anak akan jatuh, salah makan, menelan sesuatu yang seharusnya tidak dimakan, kena kotoran, membuat rumah berantakan, di-bully anak lain, atau bahkan menjadi korban kejahatan. Orangtua khawatir apakah anak tumbuh dan berkembang dengan cara yang seharusnya.

Namun, terlalu melindungi anak bisa sama merugikannya dengan jika tidak melindungi mereka. Bunda mungkin akan lebih merasa aman bagi anak jika mereka selalu diawasi, diatur, dan diarahkan oleh orang dewasa yang berpengalaman. Tetapi para peneliti menemukan bahwa anak butuh lebih dari sekadar latihan yang diawasi; mereka butuh kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungannya.

Anak perlu mengatur kegiatannya sendiri, dan tidak sekadar mengikuti arahan orang dewasa. Mereka perlu memecahkan sendiri masalahnya, bernegosiasi dengan anak-anak lain, dan mengatur tindakan mereka sendiri tanpa campur tangan orang dewasa. Dengan kata lain, mereka ingin orangtua berhenti melindungi mereka, dan membiarkan mereka memasuki dunia yang masih asing.

Tugas orangtua bukan hanya melindungi anak, tetapi juga menyiapkan anak untuk menghadapi kehidupan. Kita tidak bisa menunggu sampai mereka dewasa untuk mulai berlatih. Mereka harus mulai sekarang untuk mempelajari keterampilan yang mereka butuhkan untuk berkembang dan sukses.

Perjumpaan si Kecil dengan hal-hal yang masih baru baginya adalah pengalaman belajar yang sangat berharga. Satu-satunya cara agar anak dapat belajar melalui pengalaman adalah dengan kesediaan Bunda mengatakan “iya boleh” untuk eksplorasinya. Sebagai orangtua, Bunda hanya perlu berfokus pada keselamatannya. Tetap awasi si Kecil sambil terus membebaskannya menikmati lingkungannya yang  baru.

Bunda, yuk baca juga artikel tentang eksplorasi di artikel "Eksplorasi Dorong Kreativitas Si Kecil"