Parenting

Menabung dan Investasi Kembali untuk Pendidikan Si Buah Hati

13-11-2020

Menabung dan Investasi Kembali untuk Pendidikan Si Kecil

Tahun ajaran baru sudah dimulai, Bunda. Seperti biasanya, Bunda dan Ayah membutuhkan banyak anggaran untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Si Buah Hati di tahun ajaran baru ini. Apalagi bila Si Buah Hati baru saja memulai pendidikan formalnya. 

Bunda dan Ayah harus mengeluarkan biaya untuk pendaftaran sekolah, biaya seragam serta buku, dan dana guna kebutuhan lainnya. Biaya besar itu tentu perlu Bunda dan Ayah rencanakan dan persiapkan jauh-jauh hari, sehingga tidak membebani kondisi keuangan keluarga.

Hal ini sejalan dengan saran perencana keuangan, Prita Hapsari Ghozie SE, MCom, GCertFP, CFP. dalam live chat bersama DANCOW, Prita Hapsari menyatakan bila dana pendidikan di Indonesia, terutama di sekolah favorit, tergolong besar. Ini bisa memberatkan keuangan keluarga bila Ayah dan Bunda tidak mencicil tabungan atau berinvestasi jauh-jauh hari. "Terlebih dengan tingkat inflasi yang tinggi, dana pendidikan bisa meningkat secara signifikan," kata Prita.

Kapan Sebaiknya Merencanakan Tabungan Pendidikan? 

Lalu, kapan sebaiknya Bunda dan Ayah mulai merencanakan dan menabung untuk pendidikan Si Buah Hati? Menurut Prita, hal itu perlu dilakukan sedini mungkin. Semakin panjang rentang periode menabung dan berinvestasi, bertambah kecil pula nominal cicilan yang perlu disisihkan setiap bulan, sehingga tidak memberatkan keuangan keluarga. "Bunda bisa memulai perencanaan dan menabung dana pendidikan sejak Si Buah Hati lahir," menurut Prita.

Untuk jenis simpanan bagi pendidikan Si Buah Hati, Bunda dan Ayah perlu menyesuaikannya dengan jangka waktu penyimpanan. Bila dana pendidikan akan dibutuhkan dalam waktu kurang dari 1 tahun ke depan, sebaiknya Bunda memilih tabungan. Sementara jika lebih dari 1 tahun, pilihlah investasi. "Kalau Bunda dana pendidikan baru dipakai lima tahun kemudian, Bunda bisa melakukan investasi emas atau mencoba di reksadana," kata Prita.

Tabungan pendidikan bisa Bunda pilih ketika Si Buah Hati akan masuk sekolah pada tahun berikutnya. Agar pengelolaannya jelas dan tidak tumpang-tindih dengan simpanan keluarga, ada baiknya tabungan itu disimpan dalam rekening terpisah. Sedangkan besaran uang yang harus Bunda dan Ayah simpan ke tabungan pendidikan adalah sekitar 10 persen dari penghasilan. "Porsi ini bisa meningkat apabila terdapat kelebihan dana," ujarnya.

Bagaimana Alokasi Pendapatan Tambahan? 

Lalu bagaimana kalau Bunda atau Ayah memperoleh penghasilan di luar gaji, seperti THR atau bonus. Untuk yang satu ini, Prita Ghozie menyarankan agar Bunda dan Ayah tidak membelanjakan seluruh penghasilan tambahan itu. 

Ada baiknya bila sebagian dana dialokasikan untuk tabungan dan investasi, terutama bagi simpanan pendidikan Si Buah Hati. "Sama seperti penghasilan tetap, setidaknya Bunda dan Ayah menyisihkan 10 persen dari bonus atau THR," ujar Prita.

Yang perlu Bunda ingat dalam merencanakan simpanan pendidikan Si Buah Hati adalah memperhitungkan faktor inflasi atau kemungkinan kenaikan biaya pendidikan per tahun. Bila tahun ini uang pendaftaran masuk ke PAUD/Playgroup X sebesar Rp 4 juta, bisa jadi dua-tiga tahun kemudian meningkat menjadi Rp 5-7 juta. "Untuk mengantisipasi itu, Bunda bisa memanfaatkan kalkulator finansial sehingga bisa menghitung cicilan investasi secara berkala," menurut Prita Ghozie.

Nah, Bunda sudah paham bila perencanaan dan tabungan pendidikan untuk Si Buah Hati sangat penting, bukan? Kini yang perlu Bunda dan Ayah lakukan adalah menjaga komitmen dalam menabung dan berinvestasi bagi pendidikan Si Buah Hati. 

Cara yang paling mudah yang dapat Bunda dan Ayah terapkan  adalah melakukan autodebet segera setelah menerima gaji bulanan dan menyimpannya  pada rekening berbeda. dengan begitu, tidak ada lagi kata lupa untuk menyisihkan uang tabungan bagi pendidikan Si Buah Hati.

Dukung kecerdasan dan pendidikan anak dengan melengkapi nutrisi Si Buah Hati, seperti memberikan DANCOW 3+ Nutritods. Ini adalah susu pertumbuhan yang diformulasi untuk usia prasekolah 3-5 tahun, mengandung 0 gram sukrosa, tinggi zat besi, zink, minyak ikan, omega 3 & 6, serat pangan, tinggi vitamin A & C dan mikronutrien lainnya, serta Lactobacillus rhamnosus.