Parenting

3 Perbedaan Utama Orang Tua Milenial dan Orang Tua ‘Baby Boomer’

29-05-2019

Ciri pola asuh permisif yang baik

Sering mendengar kalimat, “Milenial begini, milenial begitu...”? Akhir-akhir ini istilah “generasi milenial” memang sering menjadi bahan pembicaraan, padahal tak jarang orang salah mengenali siapa saja yang termasuk ke dalam kelompok usia ini. Termasuk ciri dari generasi Millenial yang cenderung kreatif dengan kebebasan. Menarik untuk melihat apakah terjadi pola asuh permisif diantara para millenials ini?

Demograf William Straus dan Neil Howe yang mempopulerkan istilah ini, mendefinisikan “Generasi Milenial” atau “Generasi Y” sebagai mereka yang lahir pada tahun 1982 hingga 2004. Jadi, selain remaja-remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, generasi milenial juga mencakup mereka yang sudah memasuki usia dewasa, bahkan sudah menjadi orang tua dan memiliki keluarga sendiri seperti Bunda.

Eit, tak perlu ngambek ketika mendapat cap milenial, Bunda. Menjadi milenial tidak melulu berkonotasi jelek, lho. Menyoal pengasuhan anak, misalnya, orang tua milenial memiliki lebih banyak sumber informasi daripada orang tua dari generasi ‘baby boomer’ atau generasi orang tua kita.

Apa perbedaan kedua generasi ini dalam mengasuh anak?

1. Ingin Memiliki Anak vs Siap Memiliki Anak

Tak sedikit orang tua milenial yang menikah atau memiliki anak di usia yang lebih tua dibandingkan dengan orang tua ‘baby boomer’. Hal ini bukan karena orang tua milenial takut untuk berkeluarga. Orang tua milenial, baik perempuan maupun laki-laki, juga menginginkan keluarga. Namun karena sebagian besar memiliki akses pendidikan yang lebih baik, mereka memahami apa yang mereka butuhkan, serta kapan dan bagaimana cara mencapai keinginan mereka, sehingga meskipun mereka ingin berkeluarga mereka menunggu hingga benar-benar siap.

Hasilnya, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua milenial biasanya akan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang positif dan membangun, karena kedua orang tua mereka benar-benar terlibat aktif dalam pengasuhan anak.

2. Kata Orang Dulu vs Kata Google

Orang tua milenial tumbuh dalam era teknologi informasi, sehingga memperoleh pengetahuan baru bukanlah hal sulit bagi orang tua milenial. Informasi mengenai tumbuh kembang anak, nutrisi, kesehatan, hingga tren parenting dapat mereka peroleh semudah menekan tombol “Search”.

Jika dibandingkan dengan orang tua dari generasi ‘baby boomer’ yang mendapatkan ilmu pengasuhan anak turun temurun dari orang tua mereka tanpa filter apapun, orang tua milenial dituntut untuk lebih kritis. Informasi yang didapat dari mesin pencari pun difilter lagi, diperiksa silang dengan pendapat ahli, dengan pengalaman orang tua lain di group chat, atau forum-forum parenting lainnya, hingga orang tua milenial benar-benar mendapatkan informasi yang tepat guna untuk anak-anaknya.

Hasilnya? Orang tua milenial umumnya merasa lebih percaya diri dalam mengasuh anak, dan dengan aspek-aspek seperti pendidikan, kesehatan, gizi, hingga kesehatan emosional anak yang dipertimbangkan secara matang, tumbuh kembang anak pun akan lebih terjamin.

3. Helicopter Parenting vs Resilience Parenting

Orang tua dari generasi ‘baby boomer’ cenderung menerapkan pola pengasuhan ‘helikopter’ untuk anak. Helicopter parenting pada dasarnya merupakan pola asuh anak yang memposisikan orang tua terlalu mengontrol atau overprotective terhadap buah hatinya. Contohnya, saat bermain di luar ruangan yang cenderung kotor dan berbahaya, atau saat anak menghadapi masalah di sekolah. Alih-alih membiarkan anak mengeksplor dan mencoba memecahkan masalahnya sendiri, orang tua yang menerapkan helicopter parenting akan ikut campur dengan dalih si Kecil “belum bisa melakukannya sendiri” atau “agar si kecil tidak terluka”.

Untungnya, orang tua milenial lebih sering menerapkan ‘resilience parenting’ terhadap anak-anak mereka. Alih-alih melindungi anak-anak dari kegagalan, resilience parenting mendorong anak menggunakan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Selalu mendorong Si Kecil untuk bisa mencoba segala hal, dan memperbolehkan Si Kecil untuk makin eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

Resilience Parenting berbeda dengan pola asuh permisif, permisif lebih memanjakan anak sehingga akan mengakibatkan anak jadi lebih tidak bertanggung jawab karena tidak pernah berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Generasi milenial tahu bahwa over-parenting dapat memiliki efek negatif pada anak. Terus-terusan melarang dan berkata “tidak” pada anak dapat membatasi pengalaman-pengalaman penting yang dapat membantu tumbuh kembang Si Kecil. Orang tua milenial memahami bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Karena itu, mereka membiarkan anak-anak mereka menemukan potensi uniknya dengan memelihara kebebasan anak-anak untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Orang tua milenial memperbolehkan dan membiarkan anak-anak mereka menjelajahi dunia mereka sendiri, sembari memberikan pengertian mengenai konsekuensi dari apa yang anak mereka lakukan, hal ini adalah yang membedakan dengan pola asuh permisif. Hal ini bertujuan untuk memperluas daya eksplorasi dan tetap memantau tumbuh kembang optimal Si Kecil.

 

Orang Tua Milenial dan Generasi Alfa

Berdasarkan ciri-ciri di atas, apakah Bunda sudah menyadari bahwa generasi milenial merupakan generasi orang tua yang hebat, yang nantinya akan membesarkan anak-anak ‘generasi Alfa’ yang lebih hebat lagi? Generasi Alfa adalah generasi setelah Generasi X, Y dan Z atau Generasi masyarakat digital masa depan yang saat ini berada jauh di bawah kita.

Dengan berbagai isu yang menjadi kekhawatiran masyarakat akhir-akhir ini seperti isu pendidikan, lingkungan, dan masalah sosial, orang tua milenial  -- yang merupakan perpaduan dari generasi penuh tradisi dan generasi yang ‘melek’ informasi -- memegang peran paling penting dalam memupuk calon bakat-bakat hebat di masa depan untuk menjadi Anak Unggul Indonesia.

Bunda, salah satu bentuk dukungan untuk Si Kecil jadi anak unggul Indonesia dengan berkata “Iya Boleh” agar Si Kecil dapat bereksplorasi. Jangan ragu karena Si Kecil terlindungi dengan asupan gizi seimbang, didukung oleh susu pertumbuhan DANCOW Advanced Excelnutri+ 1+ merupakan susu pertumbuhan untuk anak usia 1 tahun ke atas, yang mengandung protein, kalsium, vitamin (A, D, E, K, C), selenium, zink, omega 3 (ALA), omega 6 (LA), Lactobacillus rhamnosus, serta serat pangan inulin, untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil.