Parenting

6 Tips Untuk Mengatasi Anak Tantrum

11-11-2020

Tips  Mengatasi Anak Tantrum

Bunda pernah mengalami situasi seperti berikut? Satu menit Bunda dan Si Buah Hati menikmati makan malam dengan tenang di restoran, semuanya sepertinya akan berjalan dengan baik-baik saja. Menit selanjutnya Si Buah Hati mulai merintih, merengek, lalu menjerit sekuat-kuatnya.

Bunda menduga Si Buah Hati tidak suka dengan makanannya. Namun, Si Buah Hati menunjuk-nunjuk minumannya tanpa berkata-kata apa pun. Hanya mengamuk saja. Aduh, Bunda jadi bingung. Ada apa, ya?

Keterampilan Bahasa Si Buah Hati Belum Berkembang

Kalau dalam istilah yang biasa digunakan dalam dunia psikologi, Si Buah tengah mengalami temper tantrum. Apa itu? Yuk, kita mengenalnya lebih jauh.

Menurut Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog., temper tantrum adalah luapan atau ledakan emosi anak yang sulit dikendalikan, biasanya berkaitan dengan keinginan yang tidak terpenuhi dan terjadi dalam situasi atau kondisi tertentu yang membuat anak tidak nyaman misalnya sedang mengantuk, lelah atau frustrasi.

Meski tampak mengkhawatirkan, temper tantrum sesungguhnya masih tergolong normal karena merupakan bagian dari proses perkembangan.

Anak-anak usia toddler biasanya rawan mengalami tantrum. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum diharapkan berakhir ketika memasuki usia sekolah di mana kemampuan bahasanya sudah lebih mahir sehingga dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi lebih baik.

Tantrum di usia batita bukan mencerminkan anak yang manipulatif, tapi memang anak tengah mengalami masa sulit dalam mengendalikan emosinya termasuk dalam merespons rasa frustasi. Vera Itabiliana  mengaitkan sebagian besar penyebab masalah itu dengan keterampilan berbahasa yang masih belum berkembang dengan baik. 

“Anak-anak toddler mulai bisa memahami lebih banyak kata yang mereka tangkap dan dengarkan, meski begitu kemampuan mereka untuk memproduksi bahasa, masih sangat terbatas,” ujarnya. Ketika Si Buah Hati tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan atau apa yang ia inginkan, rasa frustrasi pun menguasainya.

Vera juga mengatakan, selain keterampilan bahasa yang belum memadai, penyebab temper tantrum pada toddler, mulai dari mencari perhatian, keinginan yang tidak terpenuhi, rasa frustasi, kelelahan, orang tua yang mengekang, hingga anak yang memang temperamental.

Namun apa pun penyebabnya, temper tantrum sejatinya harus selesai sebelum anak memasuki usia sekolah dasar, karena jika tidak, sifat ini bisa terbawa hingga anak dewasa.

Tips Mengatasi Tantrum

Lalu, bagaimanakah cara menangani batita yang tengah mengalami temper tantrum. Ketika anak “mengamuk”, Vera menyarankan Bunda melakukan hal- hal ini. 

1. Tetaplah Berkepala Dingin.  

Ketika Si Buah Hati tantrum, dia tidak akan bisa mendengarkan alasan. Ia akan memberikan respons, secara negatif, terhadap teriakan ataupun ancaman Bunda. Semakin Bunda berteriak untuk memintanya berhenti, ia akan semakin berperilaku “liar”. 

Karenanya, berhentilah berteriak dan cobalah untuk hanya duduk dan tetap berada di sampingnya sembari menunggu Si Buah Hati selesai menumpahkan kemurkaannya. Peluk  anak jika dia mulai menyakiti dirinya atau orang lain misalnya memukul atau membenturkan kepala. Jangan berpikir untuk meninggalkannya karena malah akan membuat Si Buah Hati tambah frustasi karena merasa ketakutan.

Jika Bunda mulai terpancing emosi, Vera menyarankan untuk secara tenang meninggalkan ruangan selama beberapa menit. Namun, Si Buah Hati masih dapat melihat Bunda atau ada orang lain (ayah atau pengasuh) yang menjaganya  dan kembali setelah Si Buah Hati berhenti menangis. Dengan tetap tenang, Bunda juga sebenarnya tengah membantunya untuk tenang kembali. 

2. Jangan Lupa Posisi Sebagai Ibu

Bunda mungkin sangat tergoda untuk menyerah demi menghentikan tantrumnya, tapi cobalah untuk tidak merasa khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain. Percayalah, semua orang tua pernah mengalaminya.

Bunda hanya akan mengajari toddler bahwa tantrum adalah cara yang baik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, yang akan menjadi pondasi timbulnya konflik di masa mendatang. Daya tawar Bunda yang lemah, inilah yang ia butuhkan dari Bunda yang tidak bisa menguasai keadaan.

Jika Bunda tengah berada di tempat umum, tempat yang biasanya disukai anak untuk bersikap tantrum, bersiaplah untuk membawa pergi Si Buah Hati ke tempat yang lebih tenang atau sepi sampai ia tenang kembali.

3. Bicarakan Kemarahan Anak 

Setelah “badai” menghilang, duduklah di samping Si Buah Hati dan ajak ia bicara soal apa yang tadi terjadi. Diskusikan tantrum dalam istilah yang sangat sederhana dan cobalah untuk memahami rasa frustrasi Si Buah Hati. 

Bantu ia mengungkapkan perasaannya dalam kata-kata, seperti, “Kamu sangat marah karena Bunda tadi tidak membelikan mainan yang Adek minta”. Biarkan ia melihat bahwa setelah mengekspresikan dirinya lewat kata-kata, dia akan mendapatkan hasil yang lebih baik. 

Setelah itu katakan sambil tersenyum, “Bunda minta maaf karena tadi Bunda tidak mengerti apa yang kamu rasakan. Nah sekarang setelah kamu tidak menjerit lagi, Bunda bisa mengerti dengan baik apa yang kamu inginkan.” Jelaskan juga mengapa dia tidak bisa dapatkan apa yang ia mau dan kapan dia bisa mendapatkannya.

4.  Biarkan Si Buah Hati Tah Bunda Menyayanginya

Setelah Si Buah Hati tenang dan Bunda punya kesempatan untuk berbicara dengannya soal tantrumnya, berikan ia pelukan singkat dan katakan kepadanya bahwa Bunda menyayanginya. 

Penting bagi toddler untuk tahu, meski Bunda menolak membeli mainan, namun Bunda tetap sayang padanya. Pelukan adalah hadiah Bunda untuk Si Buah Hati yang berhasil menenangkan diri dan berbicara soal apa yang ia rasakan kepada Bunda.

5. Cobalah Prediksi Pemicu Tantrum Si Buah Hati

Ingat-ingatlah situasi mana yang membuat toddler kerap tantrum dan buatlah rencana untuk menghindarinya. Jika ia merasa marah saat lapar, bawalah camilan untuknya. Bila dia jadi jengkel di petang hari, selesaikan pekerjaan Bunda pada pagi hari.

Semakin hari, toddler akan semakin mandiri, jadi tawarkan ia pilihan kapan pun hal tersebut memungkinkan. Tak ada yang suka disuruh-suruh untuk melakukan sesuatu sepanjang waktu. Mengatakan, “Adek mau sup jagung atau wortel?” daripada “Makan dong sup jagungnya!” akan membuat toddler merasa memiliki kontrol dan mengurangi frustasinya.

Monitor seberapa sering orang tua mengatakan “tidak”. Jika orang tua melakukan hal itu secara rutin, orang tua mungkin sudah menanamkan sumber stres yang tidak perlu untuk orang tua dan anak. Cobalah untuk lebih santai dan belajar bernegosiasi dengan anak untuk hal-hal yang memang boleh dan pantas dilakukan.

6.  Waspadalah Terhadap Gejala Stres

Meski tantrum adalah hal yang sangat wajar dalam kehidupan batita, Bunda sebaiknya tetap waspada dan mencari sumber masalah yang mungkin menjadi penyebabnya. Apakah telah terjadi pergolakan di tengah keluarga? 

Apakah Bunda atau Ayah tengah menjalani masa yang super sibuk dan penuh gangguan? Apakah orang tua tengah tertekan, baik oleh pekerjaan atau hal lain? Semua hal tadi dapat mendorong terjadinya tantrum pada anak.

Jika tantrum Si Buah Hati terjadi terlalu sering atau terlalu intens (atau dia menyakiti dirinya sendiri atau orang lain), carilah bantuan. Di pemeriksaan rutin anak, dokter/psikolog biasanya akan mendiskusikan tumbuh kembang Si Buah Hati. 

Gunakan kesempatan yang baik itu untuk membicarakan kekhawatiran Bunda atas perilaku Si Buah Hati. Dokter/Psikolog akan membantu menangani setiap masalah fisik atau psikis yang tengah dihadapi pasiennya. Dokter/Psikolog juga mungkin akan memberikan sejumlah saran dalam mengatasi ledakan amarah itu.

Selain itu, hubungi dokter jika Si Buah Hati mengalami breath-holding spell (keadaan menahan napas dan tidak bersuara dalam hitungan 5-10 detik, kemudian menangis keras lagi) saat ia marah yang membuat Bunda merasa takut.

Demikian Bunda, kiat menangani temper tantrum pada toddler. Semoga Bunda berhasil mengatasinya, dan ingat, penanganan yang tepat akan membuat temper tantrum menghilang pada waktunya. Good luck

Supaya mood Si Buah Hati lebih baik, Bunda bisa memberikan DANCOW 1+ Nutritods. Produk DANCOW ini adalah susu pertumbuhan yang diformulasi untuk anak Indonesia usia toddler 1-3 tahun, dengan kandungan 0 gram sukrosa, tinggi kalsium & protein, minyak ikan, omega 3 & 6, serat pangan inulin dan mikronutrien lainnya, serta Lactobacillus rhamnosus.